KETIDAKPERCAYAAN DAN KEKERASAN HATI PARA MURID DICELA OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH, 27 April 2019) 

Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Yesus pernah mengusir tujuh setan dari dia. Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang mengiringi Yesus sebelumnya dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. Tetapi ketika mereka mendengar bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya.

Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya.

Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kekerasan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mrk 16:9-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,14-21; Bacaan Pertama: Kis 4:13-21 

Mengapa begitu sulit bagi kita untuk percaya kepada janji-janji Allah? Mengapa kita begitu rentan terhadap keragu-raguan akan hal-hal yang bersifat supernatural dan hanya percaya kepada hal-hal yang dapat kita lihat dengan mata kita? Berulang-kali dan tanpa bosan Yesus telah berbicara kepada para murid-Nya tentang kematian dan kebangkitan-Nya yang akan datang. Namun, ketika Maria Magdalena pergi memberitahukan kepada para murid bahwa Yesus sungguh telah bangkit, “mereka tidak percaya” (lihat Mrk 16:11). Bahkan ketika Yesus kemudian menampakkan diri-Nya kepada dua orang murid yang lain, tetap saja mereka “tidak percaya” (lihat Mrk 16:13). Mengapa anak-anak Allah begitu lambat untuk percaya kepada sabda-Nya … kepada firman-Nya?

Tentu saja para rasul mempunyai alasan untuk merasa takut. Mereka telah melihat Guru mereka dikhianati, ditahan dengan paksa, dan disalibkan. Apakah mereka akan menjadi korban-korban berikutnya? Rasa takut dapat memiliki suatu kekuatan yang sungguh ampuh dalam ketidakpercayaan. Apakah rasa takut akan kondisi kesehatan kita, harta-kekayaan kita, atau kehormatan kita mengurangi efek dari sabda Allah atas diri kita? Apakah kita mengabaikan suara Roh Kudus dan menolak bimbingan-Nya sambil berkata, “Terlalu sukar untuk dijalankan, Tuhan, terlalu berisiko”? Apakah sekali-kali hati kita praktis menjadi beku, tak mampu berharap atau percaya karena kehidupan kita berlangsung tidak seperti kita harap-harapkan? Apakah akal budi kita yang penuh dengan rasionalitas dan “kemasuk-akalan” menutup kemungkinan terjadinya intervensi ilahi? Apakah kita melindungi diri kita dari kekecewaan dengan menentukan bahwa yang lebih aman adalah untuk mempercayai apa yang dapat kita sentuh, dapat kita ukur, atau dapat kita prediksikan? Mengapa sampai begini?

Kita harus ingat, bahwa kita adalah anak-anak dari “seorang” Allah yang tidak dapat diprediksi! Siapakah kiranya yang bisa-bisanya menulis suatu cerita seperti dalam Alkitab: penciptaan yang fantastis, ketidaktaatan yang tolol, janji-janji penebusan, nabi-nabi, raja-raja, suatu kelahiran dari seorang perempuan yang tetap perawan, dlsb. Sesungguhnya Kitab Suci menunjukkan kepada kita mosaik yang indah tentang bagaimana yang “biasa-biasa” saja menjadi “luarbiasa” melalui intervensi Allah. Mengapa begitu sulit bagi kita untuk percaya?

Pada hari ini, kita pun dapat ikut ambil bagian dalam harapan untuk menghayati suatu kehidupan “biasa-biasa” saja yang dipenuhi dengan misteri dan keajaiban. Selagi kita mendengarkan suara Roh Kudus, hati kita akan terbuka secara alamiah dan mengenali gerakan-Nya.

Kesempatan-kesempatan untuk memberi kesaksian, menghibur dan melakukan syafaat – semua ini akan dirancang bagi kita apabila kita mau percaya dan mendengarkan. Allah akan “menguatkan tangan yang lemah lesu dan meneguhkan lutut yang goyah” (lihat Yes 35:3)!

DOA: Roh Kudus, bukalah mataku pada hari ini. Aku percaya bahwa Engkau ada di dalam diriku dan siap untuk bergerak secara tidak disangka-sangka. Aku datang untuk melakukan kehendak Allah Bapa yang ada di surga. Bagaimana hari ini aku dapat ikut ambil bagian dalam upaya  memajukan Kerajaan Allah? Terima kasih, ya Roh Kudus. Amin. 

Jakarta, 26 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

YESUS MENGUNDANG MEREKA UNTUK SARAPAN BERSAMA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI JUMAT DALAM OKTAF PASKAH, 6 April 2018) 

Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai Danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka, “Aku mau pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya, “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Hai anak-anak, apakah kamu punya ikan?” Jawab mereka, “Tidak.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka kamu akan mendapatnya.” Mereka pun menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Lalu murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus, “Itu Tuhan.”  Ketika Petrus mendengar bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Kemudian murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira seratus meter saja dan mereka menarik jala yang penuh ikan itu. Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka, “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.” Simon Petrus naik ke perahu lalu menarik jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: Seratus limapuluh tiga ekor banyaknya, dan sungguh pun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka, “Marilah dan sarapanlah.” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya, “Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia dibangkitkan dari antara orang mati. (Yoh 21:1-14) 

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 118:1-2,4,22-27; Bacaan Kedua: Kis 4:1-12

“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru” (Mzm 118: 22). Biasanya orang-orang melihat bahwa titik rendah dalam kehidupan Petrus terjadi pada malam hari ketika dia menyangkal mengenal Yesus sebanyak tiga kali (lihat Yoh 18:17, 25-27). Namun demikian ada alasan bagi kita untuk mempertimbangkan apakah setelah kejadian pada malam itu segala hal yang menyangkut Petrus tetap semakin memburuk sebelum sungguh-sungguh menjadi baik.

Ketika Petrus untuk pertama kalinya dipanggil oleh Yesus, dia meninggalkan jala penangkap ikannya untuk kemudian menjadi “penjala manusia” (Mat 4:19). Setelah Yesus bangkit dari dunia orang mati dan menampakkan diri-Nya kepada para murid-Nya, kita mungkin sekali mengharapkan bahwa Petrus akan memulai kembali tugas panggilannya ini dengan penuh semangat. Namun, apakah yang terjadi? Kelihatannya Petrus kembali ke jalan hidupnya yang lama: “Aku mau pergi menangkap ikan” (Yoh 21:3). Karena tidak mempunyai alternatif yang lebih baik, enam orang murid yang lain bergabung dengan dirinya (lihat Yoh 21:3). Mereka pun berangkat lalu naik ke perahu di danau Tiberias, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa (lihat Yoh 21:3). Hal ini tentu menambah rasa kegagalan yang selama ini telah mencekam mereka.

Petrus memang kemudian diubah, yaitu lewat perjumpaannya dengan Yesus yang sudah bangkit. Dari pantai danau Yesus memberi pengarahan kepada para murid-Nya untuk menangkap ikan yang dipenuhi keajaiban, mengingatkan kita akan begitu banyak mukjizat dan tanda heran yang dibuat oleh-Nya ketika melakukan karya pelayanan di tengah-tengah publik (lihat Luk 5:1-11). Akan tetapi, kali ini Petrus secara formal “diangkat kembali” sebagai “Gembala” yang bertugas untuk memelihara domba-domba Yesus (lihat Yoh 21:15-19); dengan demikian dia sungguh-sungguh menjadi “penjala manusia” yang sejati. Inilah kuasa dari kebangkitan Yesus.

Kuasa yang mampu mentransformasikan dari kebangkitan Yesus diungkapkan bahkan dalam kisah “penangkapan ikan” ini. Jumlah ikan yang berhasil ditangkap jala, 153 ekor, melambangkan bagaimana Yesus merangkul semua orang yang ada di muka bumi ini. Ilmu hewan atau zoology pada zaman itu mengenal adanya sebanyak 153 species ikan yang berbeda. Meskipun ikan yang berhasil ditangkap itu besar dan memenuhi jala, jala itu sendiri tidak koyak. Hal ini mau menunjukkan bahwa Gereja Allah mampu untuk menampung banyak orang yang berbeda-beda suku, bangsa, ras, budaya dlsb. namun tetap kokoh. Hal itu saja merupakan sebuah mukjizat besar!

Akhirnya, kebangkitan Yesus memampukan para pengikut-Nya untuk mengenal dan mengalami kuasa dan rasa aman-tenteram dari kasih-Nya. Sarapan di pantai berupa ikan panggang dan roti yang disiapkan Yesus untuk para murid-Nya mengingatkan kita bahwa Dia akan memelihara dan memperhatikan segala kebutuhan kita – baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan spiritual. Kita dapat merasakan di sini adanya nada tambahan Ekaristi (kata orang: “nuansa” Ekaristinya). Allah yang kita percayai untuk keselamatan kita adalah Allah yang sama, yang memberikan kepada kita makanan sehari-hari kita.

DOA: Yesus Kristus, Engkau telah menunjukkan kepada kami bahwa tidak ada siapa atau apapun yang dapat mengalahkan kuasa kehidupan-Mu, tidak juga maut. Ajarlah kami untuk tidak takut pada kuasa-transformasi-Mu, karena hidup kebangkitan-Mu mengubah segala hal di sekeliling kami dan di dalam diri kami masing-masing. Engkau adalah satu-satunya fondasi sejati dalam kehidupan. “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru” (Mzm 118: 22). Amin.

Jakarta, 26 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MASIH TERUS BERKARYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI KAMIS DALAM OKTAF PASKAH – 25 April 2019) 

Karena orang itu tetap mengikuti Petrus dan Yohanes, maka seluruh orang banyak yang sangat keheranan itu datang mengerumuni mereka di serambi yang disebut Serambi Salomo. Ketika Petrus melihat hal itu, ia berkata kepada orang banyak itu, “Hai orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-oleh kami membuat orang itu berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri? Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus memutuskan untuk melepaskan Dia. Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh untuk diberikan kepada kamu. Kamu telah membunuh Perintis Kehidupan, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi. Karena kepercayaan kepada Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kenal ini; dan kepercayaan itu telah memberi kesembuhan kepada orang ini di hadapan kamu semua. Nah, Saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena tidak tahu apa yang kamu lakukan, sama seperti semua pemimpin kamu. Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita. Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang sejak semula ditetapkan bagimu sebagai Kristus. Kristus itu harus tinggal di surga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu. Bukankah telah dikatakan Musa: Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku: Dengarkanlah dia dalam segala sesuatu yang akan dikatakannya kepadamu. Dan akan terjadi bahwa setiap orang yang tidak mendengarkan nabi itu, akan dibinasakan dari tengah-tengah umat. Lagi pula, semua nabi yang pernah berbicara, mulai dari Samuel, dan yang datang sesudah dia, telah bernubuat tentang zaman ini. Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Melalui keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati. Bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan membuat kamu masing-masing berbalik dari segala kejahatanmu.” (Kis 3:11-26) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2,5-9; Bacaan Injil: Luk 24:35-48

Setelah baru saja menyembuhkan seorang lumpuh “dalam nama Yesus”, kepada orang banyak yang sedang mendengarkan khotbahnya Petrus melontarkan sebuah pertanyaan yang sederhana namun membingungkan: “Hai orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-olah kami membuat orang itu berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri?” (Kis 3:12). Jelas, bahwa bagi Petrus bukanlah hal yang luarbiasa bagi Yesus untuk membuat mukjizat, bahkan setelah Ia naik ke surga. Biar bagaimanapun juga, sebelum itu Petrus telah seringkali menyaksikan kuasa penyembuhan Yesus diwujudkan di depan matanya sendiri. Dia juga tahu sekali bahwa Yesus masih hidup sebagai Tuhan yang bangkit. Bukankah dengan demikian logika menuntut bahwa Yesus akan terus menyembuhkan? Jawaban Petrus terhadap pertanyaan ini adalah sebuah “YA” yang pasti!

Pertanyaan Petrus kepada orang Israel di atas juga dapat ditujukan kepada kita yang hidup pada abad ke-21 ini. Mengherankankah apabila Yesus menyembuhkan sakit-penyakit pada hari ini melalui doa dan pelayanan orang-orang Kristiani (pengikut-pengikut Kristus)? Samasekali tidak mengherankan! Yesus memang masih terus menyembuhkan dan melakukan banyak mukjizat dan “tanda heran” lainnya. Sebaliknya, sebagai umat Kristiani, pantaslah kita merasa heran apabila mendengar bahwa Yesus telah berhenti menyembuhkan dan membuat mukjizat dan “tanda heran” lainnya.

Pada masa Paskah ini, ketika anda membaca “Kisah para Rasul”, catatlah berapa sering para murid-Nya mengalami kuasa dan kehadiran Tuhan Yesus. Ia mengasihi para murid-Nya, dan Ia telah berjanji untuk senantiasa ada bersama mereka. Hal ini benar, bahkan pada hari ini juga. Yesus adalah Imanuel (Allah yang menyertai kita; lihat Mat 28:20), dan Ia mengasihi kita. Kita dapat memohon kepada-Nya untuk menyembuhkan dan melakukan intervensi pada hari ini dengan penuh keajaiban. Yesus memiliki kuasa dan otoritas – juga hasrat – untuk melakukan hal-hal yang baik ini. Seperti apa yang dilakukan Yesus pada masa Gereja awal (perdana) lewat iman-kepercayaan para murid-Nya, maka melalui doa-doa dan pelayanan para murid-Nya, Yesus tetap dapat melakukan karya-Nya. Pernyataan ini berlaku bagi kita semua: anda dan saya!

Dalam pekan-pekan mendatang ini, kita dapat memohon kepada Yesus untuk menunjukkan kepada kita bagaimana Dia bekerja dalam kehidupan orang-orang di sekeliling kita. Kita mohon kepada-Nya agar memberikan suatu visi yang lebih luas berkenan dengan jalan yang ingin Ia gunakan terhadap kita masing-masing sebagai seorang pelayan-Nya di bidang penyembuhan berbagai sakit-penyakit. Marilah kita mencoba untuk melakukan doa-doa syafaat (doa-doa untuk orang-orang lain) bagi mereka yang sedang berada dalam situasi-situasi sulit, dengan rasa percaya mendalam akan janji-janji-Nya. Janganlah kita cepat menyerah. Kita harus menaruh kepercayaan pada kebaikan dan belas kasihan-Nya. Ingatlah bahwa Yesus mengasihi setiap orang dan Ia sungguh ingin menolong. Yesus juga mengasihi kita dan ingin bekerja melalui kita masing-masing untuk menolong orang-orang lain.  Janganlah kita menjadi kaget dan terkejut ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa Yesus sungguh-sungguh hadir dan melakukan penyembuhan dan/atau membuat mukjizat serta tanda heran lainnya, bahkan pada hari ini juga. Yesus itu Tuhan dan Juruselamat kita, dan Ia adalah Mahasetia.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah orang-orang yang sudah hampir kehilangan pengharapan. Bukalah mata mereka agar dapat melihat realitas kebangkitan-Mu dari dunia orang mati, dan kuasa-Mu yang dapat mengalir ke dalam kehidupan mereka dari kebangkitan-Mu itu. Tunjukkanlah kepada mereka betapa Engkau ingin bekerja dalam kehidupan mereka setiap saat. Terima kasih, ya Tuhan. Amin.

Jakarta, 24 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS SIAP UNTUK MENYEMBUHKAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RABU DALAM OKTAF PASKAH, 24 April 2019)

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah desa bernama Emaus, yang terletak kira-kira sebelas kilometer dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”  Lalu berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dialah adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel. Sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Ia hidup. Beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati persis seperti yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”  Lalu Ia berkata kepada mereka, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya”  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati desa yang mereka tuju, lalu Ia  berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.”  Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”  Lalu bangkitlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu dan orang-orang yang ada bersama mereka, sedang berkumpul. Kata mereka itu, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”  Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. (Luk 24:13-35) 

Bacaan Pertama: Kis 3:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9 

Kita hampir dapat mendengar kejengkelan dalam suara dua orang murid Yesus ini. Meskipun sudah ramai juga “gosip” atau “kabar angin” bahwa pahlawan mereka masih hidup, mereka sendiri belum melihat Yesus. Sekarang adalah hari ketiga sejak kematian Yesus di kayu salib yang penuh kehinaan dan kepedihan itu. Oleh karena itu mereka berkesimpulan bahwa sang “nabi” tidak akan kembali untuk membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan bangsa asing. Janji-janji Yesus kedengarannya kosong belaka bagi mereka.

Kita pun terkadang dapat mengalami kekecewaan seperti kedua orang murid ini. Manakala posisi keuangan sedang payah dan tingkat stres tinggi, misalnya, atau ketika kita sedang sakit dan tidak melihat tanda-tanda yang mengarah kepada kesembuhan, harapan dapat menyusut dan godaan untuk tidak menaruh kepercayaan pada Allah pun semakin dekat dan besar. Dalam keadaan penuh frustrasi kita dapat merasa seakan-akan Yesus telah meninggalkan kita atau Dia memang tidak mau memenuhi janji-Nya.

Namun kabar baiknya adalah bahwa Allah akan memenuhi semua janji-Nya – seperti yang telah dijanjikan-Nya bahwa Dia akan bangkit lagi pada hari ketiga (Luk 9:22; 18:33). Sementara kedua orang murid itu merasa sedih dan meratapi harapan-harapan mereka yang tak terpenuhi, Yesus berdiri di hadapan mereka! Coba pikirkan saja: Apabila tidak bertemu dengan Yesus yang sudah bangkit dalam perjalanan menuju Emaus, kemungkinan besar kedua murid itu tidak akan mengalami hari Pentakosta yang bersejarah itu.

Yesus sedang menantikan kita yang gelisah, sedih, kecewa karena harapan-harapan kita yang tak terpenuhi. Dia siap untuk menyembuhkan kita, anda dan saya. Dia ingin agar kita melepaskan beban-beban kita dan percaya bahwa Dia ingin menolong kita dalam pencobaan dan kekecewaan kita. Dia selalu berada dengan kita, seperti yang telah dijanjikan-Nya (Mat 28:20). Kita dapat selalu memanggil-Nya, karena Dia sungguh memperhatikan kita, Dia mengasihi kita! Bahkan begitu mengasihi kita, sehingga Dia masuk kubur dan bangkit kembali untuk kita semua. Semoga Roh-Nya membuka hati kita agar dapat mengenali Yesus yang bangkit, Tuhan segala mukjizat!

DOA: Allah Roh Kudus, tolonglah aku. Aku mau melihat Yesus! Tolonglah agar supaya aku menaruh pengharapan dan kepercayaanku hanya pada-Nya. Amin. 

Jakarta, 23 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HATI MEREKA TERSAYAT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH, 23 April 2019) 

Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”

Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka tersayat, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain, “Apa yang harus kami perbuat, Saudara-saudara?” Jawab Petrus kepada mereka, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.” Dengan banyak perkataan lain lagi ia bersaksi dan mendesak mereka, katanya, “Berilah dirimu diselamatkan dari orang-orang yang jahat ini.”

Orang-orang yang menerima perkataannya itu dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. (Kis 2:36-41) 

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 33:4-5,18-20,22; Bacaan Injil: Yoh 20:11-18 

Allah kita sungguh murah hati! Dia ingin menyelamatkan kita. Dia ingin memenuhi diri kita dengan kehidupan ilahi! Dia telah memanggil kita kepada suatu kehidupan baru dalam Diri-Nya. Dalam khotbah “perdana”-nya, Petrus mengatakan kepada orang-orang yang hadir bahwa Allah telah membuat Yesus, yang mereka salibkan itu, menjadi “Tuhan” dan “Kristus” (Mesias). Dua kata ini begitu akrab bagi telinga kita, namun kita dapat membayangkan, betapa dua kata itu mengagetkan dan menggoncang hati orang-orang pada hari Minggu Pentakosta yang sangat bersejarah itu. Bayangkan, Petrus sang nelayan berbicara di hadapan audiensi yang berciri multi-nasional, mengatakan kepada mereka bahwa Allah telah menganugerahkan dua gelar ini – Tuhan (Yunani: Kyrios) dan Kristus (Mesias) kepada putera seorang tukang kayu sederhana dari Nazaret.

Pada waktu orang-orang mendengar khotbah Petrus ini, “hati mereka tersayat” karena mereka menjadi sadar bahwa pemikiran-pemikiran dan gaya hidup mereka jauh masih sangat jauh dari suatu persekutuan penuh dengan Allah (lihat Kis 2:37). Setelah melakukan pertobatan, mereka pun dibaptis ke dalam suatu kehidupan baru melalui Roh Kudus.

Karunia pertobatan merupakan sebuah langkah indah dalam proses perubahan dan transformasi. Allah mempunyai banyak karunia (anugerah) dan berkat dalam “gudang”-Nya bagi mereka yang berbalik dari kehidupan dosa dan berupaya untuk menghayati suatu kehidupan baru. Dia menyediakan pengampunan, karunia Roh Kudus, dan melalui Yesus, pemenuhan segala janji-Nya. Kita hanya perlu mengambil keputusan untuk mengubah arah hati kita, berbalik kepada Allah dan mohon kepada-Nya agar membebas-merdekakan kita dari setiap dosa yang selama ini telah memisahkan kita dari Allah.

Pada kayu salib, Yesus telah menanggung sendiri segala beban dosa-dosa kita, dan Ia memberdayakan kita agar dapat berjalan dengan penuh martabat sebagai anak-anak Allah. Sebagai tanggapan terhadap pertobatan dan iman kita, Dia memberikan kepada kita Roh Kudus yang akan menyadarkan kita akan dosa kita serta meyakinkan kita akan dahsyatnya karya penebusan Yesus Kristus. Roh Kudus ini juga memberdayakan kita untuk menghayati suatu kehidupan baru. Roh Kudus selalu beserta kita, meyakinkan kita bahwa sementara kita masuk secara lebih mendalam lagi ke dalam kehidupan baru sebagai anak-anak Allah, maka kita dapat menerima kepenuhan janji-janji-Nya.

Pada hari ini, perkenankanlah agar “hati kita tersayat”, dipenuhi hasrat mendalam akan karunia pertobatan. Allah begitu ingin mengampuni kita dan membawa kita ke dalam kerajaan-Nya. Ketika kita bertobat, Ia melakukan suatu karya dahsyat dalam diri kita, menawarkan kepada kita suatu cara hidup yang baru dan berbeda, kaya dengan berkat-berkat-Nya.

Sekarang, apakah anda sedang mengalami kebebasan dari dosa? Apakah anda mengenal karunia-karunia Roh Kudus seperti damai-sejahtera, kesabaran, kebaikan hati dan kasih? Apabila kita tidak melihat kepenuhan kuat-kuasa Allah bekerja dalam kehidupan kita, maka marilah kita memohon kepada-Nya untuk memimpin kita kepada suatu pertobatan yang lebih mendalam dan kepenuhan Roh-Nya. Allah sungguh merindukan untuk memberikan kepada kita segala hal yang kita perlukan untuk hidup dalam iman dan rahmat setiap hari.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih untuk kesetiaan dan berbagai karunia dari-Mu yang sungguh menakjubkan. Penuh tobat aku datang menghadap hadirat-Mu – dalam upayaku untuk menghayati kehidupan dalam Engkau. Tolonglah aku agar dapat mengalami kebaharuan total dalam Roh Kudus-Mu. Amin.

Jakarta, 22 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KESAKSIAN PETRUS YANG SUDAH DIPENUHI ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SENIN DALAM OKTAF PASKAH, 2 April 2018) 

Lalu Petrus bangkit berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka, “Hai orang-orang Yahudi dan semua orang yang tinggal di Yerusalem, perhatikanlah perkataanku ini dan ketahuilah.

Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yesus dari Nazaret adalah orang yang telah ditentukan Allah dan dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda ajaib yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu ketahui. Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia setelah melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu. Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku memandang Tuhan senantiasa di hadapan-Ku karena Ia berada di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan lidahku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dalam pengharapan, sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu [1].

Saudara-saudara, aku dapat berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapak leluhur kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan bersumpah bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. (Kis 2:14, 22-32).

[1] Kis 2:25-28: Mzm 16:8-11. 

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 16:1-2,5,7-11; Bacaan Injil: Mat 28:8-15 

Sehari setelah Minggu Paskah, kadang-kadang kita merasa bahwa semuanya selesailah sudah, sekarang tibalah saatnya bagi kita untuk kembali kepada situasi “normal”, keluar dari masa Prapaskah yang cukup lama, disusul dengan kesibukan penuh acara pada hari Minggu Palma, Tri Hari Paskah, yang akhirnya memuncak para hari Minggu Paskah kemarin. Akan tetapi, Lukas mengingatkan kita, bahwa Roh Kudus tidak akan turun ke atas para murid di ruang-atas di Yerusalem itu sampai setelah hari Paskah. Ya, untuk selama 50 hari mendatang seluruh Gereja akan merayakan misteri kasih Allah bagi kita dalam kebangkitan Yesus Kristus.

Untuk mengawali perayaan selama 50 hari ini, Gereja mempersilahkan kita untuk merenungkan kata-kata Petrus kepada orang-orang di Yerusalem, setelah Roh Kudus turun atas dirinya. Patutlah bagi kita untuk mengingat, bahwa beberapa pekan sebelumnya, Petrus telah menyangkal bahwa dirinya mengenal Yesus (lihat Yoh 18:17). Jadi, kata-kata Petrus yang kita dengar pada hari ini adalah kata-kata dari seorang pribadi yang telah diubah. Mengapa Petrus sampai begitu berubah? Karena dia telah berjumpa dengan Yesus Kristus yang telah bangkit dari dunia orang mati! Petrus telah menyaksikan kemenangan Allah atas dosa dan kejahatan. Dia sadar bahwa Allah tidak meninggalkan Yesus. Bapa surgawi tidak meninggalkan Putera-Nya yang tunggal pada saat-saat di mana Dia sangat membutuhkan pendampingan Bapa-Nya. Sebaliknya, Bapa membangkitan Yesus dan melalui Dia mencurahkan Roh Kudus-Nya ke atas siapa saja yang mau percaya. Dalam diri Kristus, Allah menjadi manusia dan mengambil serta menanggung semua dosa dan kelemahan kita-manusia dan mentransformasikannya.

Kabar Baik yang diwartakan oleh Petrus sekitar 2.000 tahun lalu masih memiliki relevansi yang sama bagi kita pada hari ini. Yesus tidak hanya memenangkan keselamatan bagi kita, Dia juga mengalami segala ketakutan dan godaan kita yang paling jelek. Yesus tahu apa artinya digoda agar kita meragukan kasih Bapa surgawi atau berputus-asa pada waktu kita menanggung beban kehidupan yang terasa begitu berat. Yesus menanggung rasa takut karena merasa ditolak atau ditinggalkan, bahkan rasa takut kita terhadap kematian. Yesus merangkul itu semua dan membawanya  semua ke salib-Nya.

Kita mempunyai pengalaman-pengalaman yang terjadi secara berulang-ulang dalam kehidupan ini, namun kematian Yesus adalah peristiwa yang terjadi hanya sekali saja. Dengan berjalannya waktu dan tentunya usia kita juga, menderita penyakit yang sangat serius, atau kehilangan seorang yang sangat dikasihi dapat menyebabkan kita menghadapi isu kematian kita sendiri secara lebih langsung. Mengenal kasih Allah seperti yang dialami Petrus dapat membalikkan pikiran kita, dari rasa ragu-ragu dan takut kepada rasa percaya akan kehidupan yang telah dijanjikan Allah kepada kita semua.

Dengan memusatkan hati kita pada kebangkitan Yesus, maka kita pun akan diberdayakan untuk menanggalkan cara-cara pemikiran kita yang lama, melalui pertobatan dan iman kepada Yesus. Hal ini dapat memenuhi diri kita dengan rasa percaya yang sama seperti yang dahulu kala ada pada Petrus dan para rasul yang lain.

DOA: Bapa surgawi, dengan mengutus Putera-Mu yang tunggal, Yesus Kristus, Engkau telah memberikan kepada kami suatu kehidupan yang tidak akan berakhir. Lewat penebusan Yesus Kristus di kayu salib, Engkau telah mengalahkan maut atas diri kami, dan pada hari ini kami akan membuat diri kami tersalib bersama Kristus. Kami adalah milik-Mu, ya Bapa. Dengan demikian hati kami bergembira dan jiwa kami akan memuji-muji Engkau dalam sukacita yang sejati. Amin. 

Jakarta, 21 April 2019 [HARI RAYA PASKAH KEBANGKITAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PASKAH: KEBANGKITAN YESUS KRISTUS

(Bacaan Kedua Misa Kudus – HARI MINGGU PASKAH KEBANGKITAN TUHAN, 21 April 2019) 

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutupnya telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Lalu berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kafan terletak di tanah; akan tetapi, ia tidak masuk ke dalam. Kemudian datanglah Simon Petrus yang menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi terlipat tersendiri di tempat yang lain. Sesudah itu, masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati. (Yoh 20:1-9) 

Bacaan Pertama: Kis 10:34a.37-43; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 118:1-2.16-17.22-23; Bacaan Kedua: Kol 3:1-4 atau 1Kor 5:6-8 

Hari ini adalah HARI MINGGU dari segala hari Minggu, karena pada hari ini Gereja (anda dan saya) merayakan kebangkitan Yesus Kristus! Pada hari ini, kita bergabung bersama para murid yang berlari-lari menuju kuburan Yesus dan mendapati kuburan itu sudah dalam keadaan kosong. Kita tidak perlu berdiam di luar kuburan-Nya sambil terus diliputi rasa ragu dan takut. Kita dapat menemani murid yang dikasihi Yesus masuk ke dalam kubur dan “melihatnya dan percaya” (Yoh 20:8). Kemudian, bersama dengan Maria Magdalena kita dapat merangkul Yesus sebagai Tuhan kita yang telah bangkit.

Kembali kepada bacaan Injil di atas, sebenarnya di sini kita hanya mendengar sebagian saja dari cerita tentang kebangkitan Yesus. Maria Magdalena, Petrus dan murid yang dikasihi Yesus, dalam bacaan Injil di atas, seorang pun dari mereka tidak/belum ada yang berjumpa dengan Tuhan yang bangkit. Namun demikian, cerita seperti itu dapat membawa pengalaman mereka bertiga menjadi lebih dekat dengan pengalaman kita. Selama akhir pekan sejak kematian Yesus di kayu salib pada Jumat siang, iman para murid diuji habis-habisan. Sampai mereka berjumpa dengan Kristus yang sudah bangkit, mereka hanya dapat berharap dan menaruh kepercayaan pada janji-Nya bahwa Dia akan bangkit.

Demikian pula halnya dengan kita, karena kita sendiri pun belum berjumpa dengan Kristus yang bangkit dalam daging. Oleh karena itu, inilah suatu “saat iman” bagi kita juga. Akan tetapi, kita tidak perlu menanti dengan penuh rasa cemas dan takut seperti yang dialami para murid Yesus dulu. Kita mempunyai Roh Kudus yang hidup dalam diri kita masing-masing, yang meyakinkan kita bahwa kebangkitan Kristus memang riil-nyata. Iman kita akan Yesus Kristus yang bangkit dari antara orang mati, memang dari Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang  meyakinkan kita akan realitas-realitas bahwa kita tidak akan melihat-Nya sampai hari akhir Tuhan, artinya pada hari kedatangan-Nya kembali.

Itulah sebabnya, mengapa hari ini merupakan hari perayaan yang sangat besar bagi kita semua anak-anak Bapa surgawi. Roh Kudus membuat kebangkitan Yesus menjadi riil-nyata bagi kita! Dia (Roh Kudus) ingin membawa kepada kita kemerdekaan dari dosa yang telah dicapai oleh Yesus di atas kayu salib. Kita tidak lagi menjadi hamba-hamba dosa. Kita tidak perlu melihat Yesus dengan mata jasmani kita; kita dapat menerima Dia dalam hati kita masing-masing! Bahkan maut sekali pun tidak dapat menang atas diri kita!

Hari ini kita mempunyai kesempatan untuk melangkah melampaui suatu iman intelektual kepada suatu iman yang hidup dalam hati kita. Kristus telah bangkit! Ia telah membersihkan kita dari setiap dosa. Kita tidak akan mati; kita akan hidup dengan Dia untuk selama-lamanya! Apabila kita belum mengalami sukacita tak terlukiskan ini, maka hari ini adalah hari untuk memulainya. Roh Kudus siap untuk menunjukkan kepada kita kasih dan kuat-kuasa Allah. Hari ini adalah hari untuk mengalami kebenaran-kebenaran penuh kemuliaan ini yang akan menyebabkan kita berseru dengan suara nyaring: “Ia telah bangkit!” Kata-kata ini akan kedengaran penuh makna bagi kita apabila kita mohon Roh Kudus mengungkapkannya kepada hati kita masing-masing.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Kata-kata pujian apakah yang dapat kupersembahkan bagi-Mu. Kematian telah Engkau kalahkan. Kehidupan ilahi-Mu kini hidup di dalam diriku. Tuhan Yesus, aku akan mengasihi Engkau dan memuji-muji kebesaran-Mu selama-lamanya. Amin.

Jakarta, 21 April 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS