KAMU MENGABAIKAN KEADILAN DAN KASIH TERHADAP ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Rabu, 15 Oktober 2019)

Peringatan Fakultatif S. Hedwig, Biarawati

Peringatan Fakultatif S. Margarita Maria Alacoque, Perawan 

“ ……… Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih terhadap Allah. Hal-hal tersebut harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lainnya. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terbaik di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya, “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Tetapi Ia menjawab, “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun. ………” (Luk 11:42-46) 

Bacaan Pertama: Rm 2:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 62:2-3,6-7,9 

“Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih terhadap Allah. Hal-hal tersebut harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lainnya.” (Luk 11:42)

Bayangkanlah kita mengundang seorang tamu istimewa untuk makan bersama di rumah kita dan kemudian kita malah “dimaki-maki” dan dihina, demikian pula para tamu lain yang hadir. Tamu macam apa yang akan menyerang tuan rumah dengan kata-kata yang terasa sangat keras itu? Seperti seekor singa ganas yang menyerang mangsanya, Yesus – singa dari suku Yehuda (Why 5:5) – menyerang sikap negatif yang telah begitu lama mengendap dalam hati orang-orang Farisi.

Itulah yang dengan keras diserukan oleh Yesus, namun pernyataan seperti ini dapat dengan mudah disalah-artikan, maka baik untuk ditelaah lebih lanjut. Di sini Yesus samasekali tidak mengutuk praktek-praktek keagamaan yang melampaui apa yang disyaratkan sebagai tugas-kewajiban. Yang membuat Yesus menyalahkan orang-orang Farisi adalah kenyataan bahwa mereka mengabaikan keadilan dan kasih terhadap Allah. Mereka sebenarnya dapat mematuhi segala persyaratan hukum Musa tanpa harus mengabaikan praktek-praktek keagamaan mendasar lainnya. Keadilan dan kasih terhadap Allah adalah aspek-aspek penting kehidupan rohani yang dipuji oleh Yesus. Kata “keadilan” (Inggris: justice; Yunani: krisis) berarti “hak (teristimewa hak dari mereka yang tertindas) yang dibenarkan oleh Allah”, sang Hakim yang adil. Oleh karena itulah Yesus mencela orang-orang Farisi karena mereka tidak mempedulikan hak-hak “wong cilik”.

“Kasih kepada/terhadap Allah” di sini dalam Alkitab berbahasa Inggris disebut the love of God (mis. Revised Standard Version (RSV) –Catholic Edition dan The New Jerusalem Bible (NJB), dan juga the love for God (mis. The New American Bible (NAB) dan Good News Bible (TEV). Mungkin seseorang yang ahli/mahir sekali dalam bahasa Yunani dapat menerjemahkannya kata aslinya dengan tepat. Dari kedua terjemahan yang berbeda dalam bahasa Inggris tadi, saya dapat mengatakan bahwa ungkapan itu dapat berarti “kasih Allah bagi semua orang” atau “kasih yang harus dirasakan dan ditunjukkan oleh orang-orang kepada Allah” sementara mereka menjadi sadar akan kenyataan betapa besar kasih dan kerahiman-Nya, yang diwujudkan dalam hidup mereka. Perwujudan paling agung dari kasih Allah kepada kita ini adalah kematian yang menyelamatkan dari Yesus Kristus – Putera Allah – serta kebangkitan-Nya. “Telur dulu atau ayam dulu nih?” Oleh karena itu, baiklah kita membuat apa yang ditulis Yohanes berikut ini sebagai pegangan abadi bagi kita: “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1Yoh 4:19). Jadi kalau kita mau ketat dalam terjemahan Inggrisnya, beginilah hasilnya: The love of God bagi kita dari pihak Allah, menyebabkan kita mengungkapkan the love for God. Karena ini bukan pelajaran bahasa Inggris, maka baiklah kita kembali kepada teks yang sedang kita renungkan.

Kata-kata Yesus kepada orang-orang Farisi itu harus mendorong kita untuk melakukan pemeriksaan batin. Kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah kita cukup bermurah hati dalam hal berbagi uang kita, harta-milik kita lainnya, waktu kita, dan cintakasih kita (bukan dalam arti cinta seksual) kepada orang-orang lain yang membutuhkan? Apakah kita memiliki semangat berapi-api untuk tidak mengabaikan praktek-praktek keagamaan yang telah ditetapkan, sementara masih memendam dalam hati kita rasa-marah, akar-kepahitan atau pikiran-pikiran untuk membalas dendam terhadap anggota-anggota keluarga yang kita rasakan telah men’dzolimi’ diri kita? Apakah kita rajin menghadiri Perayaan Ekaristi dan kegiatan gerejawi lainnya, padahal kita terus melibatkan diri dalam praktek bisnis yang busuk, korup dan tidak etis? Apakah pada hari Minggu kita merupakan SANTA atau SANTO teladan, sedangkan dari hari Senin sampai dengan Sabtu kita sibuk dengan kegiatan/praktek SANTET terhadap para pesaing kita dalam karir atau bisnis? Kita tidak seharusnya menjadi takut kepada implikasi-implikasi dari kata-kata Yesus atas kehidupan kita. Malah kata-kata Yesus itu dapat menolong kita untuk dapat melihat dengan lebih jelas lagi sejumlah unsur sentral dari suatu kehidupan Kristiani yang lebih sehat.

DOA: Tuhan Yesus, semoga Roh Kudus-Mu menyelidiki relung-relung hatiku yang terdalam dan mengajarkan aku kebenaran-kebenaran jalan-Mu. Semoga kehidupanku mencerminkan kepenuhan Injil. Tolonglah aku untuk mempraktekkan keadilan dan cintakasih kepada Allah dengan kesadaran penuh, bahwa Allah telah mengasihiku terlebih dahulu. Amin.

Jakarta, 15 Oktober 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

TETAPI BAGIAN DALAMMU PENUH RAMPASAN DAN KEJAHATAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus,  Peringatan Wajib S. Teresia dr Yesus – Selasa, 15 Oktober 2019)

KSFL: Pesta Tarekat – Hari Jadi Persaudaraan KSFL 

Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Ia masuk ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu heran melihat bahwa Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Hai orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.” (Luk 11:37-41) 

Bacaan Pertama: Rm 1:16-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Orang-orang Farisi sungguh kaget menyaksikan Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan (Luk 11:38). Mencuci tangan kiranya merupakan suatu adat-kebiasaan di antara orang-orang Farisi, walaupun hal itu bukan merupakan bagian dari hukum Perjanjian Lama. Barangkali, keluar dari sebuah hasrat untuk mencapai kekudusan pribadi yang lebih mendalam, sejumlah orang Farisi telah memperluas kepada umat awam satu peraturan yang aslinya hanya diperuntukkan bagi para imam. Lebay !!!

Yesus sendiri tentu sangat pro kehidupan yang saleh, namun Ia tidak setuju dengan pendekatan gaya Farisi ini. Keterkejutan tuan rumah itu digunakan oleh Yesus sebagai suatu kesempatan untuk mengatakan bahwa fokus orang-orang Farisi pada hal-hal yang bersifat eksternal adalah salah. Apa artinya pembersihan/pemurnian secara eksternal/lahiriah jikalau pikiran dan hati seseorang tetap saja digelapkan oleh dosa?

Tanggapan Yesus yang menggunakan kata-kata keras ini menekankan satu bagian sentral dari ajaran-ajaran-Nya. Ketidakbersihan/ketidakmurnian yang sungguh perlu kita risaukan atau menjadi keprihatinan kita bukanlah yang bersifat seremonial, melainkan ketidakbersihan/ketidakmurnian berupa sikap-sikap kedosaan. Penolakan, keculasan, keangkuhan, hawa nafsu, keserakahan dan sikap-sikap serupa – semua inilah yang membuat diri kita tidak bersih.

Kita semua tentunya setuju bahwa kata-kata dan tindakan-tindakan kita berakar pada sikap-sikap hati kita. Kalau kita membuang bagian dalam kita yang bertentangan dengan kehendak Allah, maka kata-kata dan tindakan-tindakan kita juga akan menjadi bersih (Luk 11:41). Tantangannya adalah bagaimana kita memperkenankan api-yang-memurnikan dari Roh Kudus membersihkan kita sehingga kita dapat mengenal dan mengalami kebebasan baru dan kuasa baru dalam upaya-upaya kita mentaati perintah-perintah Allah. Akan tetapi, apabila kita hanya memperhatikan tindakan-tindakan kita, maka kita tidak akan pernah sampai kepada jantung atau hakikat hidup baru yang Yesus sangat rindukan untuk dicurahkan kepada kita.

Dalam doa kita hari ini, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita di mana saja dalam diri kita yang perlu dibuat bersih. Roh Kudus-Nya dengan lemah lembut akan menunjukkan di mana saja kita merasa iri hati ketika rekan-kerja kita dipuji oleh pejabat atasan kita, ketika kita menjadi marah karena ada kata-kata tajam yang keluar dari mulut orang yang kita kasihi, atau ketika kita menikmati pikiran-pikiran penuh nafsu dalam otak kita. Solusi dari segala bentuk ketidakbersihan batiniah adalah cepat-cepat mengakukan dosa kita dan mohon pembersihan menyeluruh melalui kuasa darah Yesus.

DOA: Roh Kudus, lihatlah ke dalam hatiku pada hari ini dan tunjukkanlah kepadaku di mana aku membiarkan dosa berakar dalam diriku. Buatlah aku agar lebih penuh perhatian terhadap suara-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat datang dengan cepat kepada Yesus untuk dibersihkan. Basuhlah aku dalam darah Kristus, agar supaya segalanya yang kulakukan bersumber dari sebuah hati yang murni. Amin.

Jakarta, 14 Oktober 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELEBIHI TANDA NABI YUNUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Senin, 14 Oktober 2019)

Peringatan Fakultatif S. Kalistus I, Paus Martir

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”  (Luk 11:29-32)  

Bacaan Pertama: Rm 1:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4 

Pernahkan Saudari-Saudara berpikir tentang bagaimana pentingnya tanda-tanda bagi hidup kita? Rambu-rambu lalu-lintas memperlihatkan kepada kita berapa km/jam kita dapat berkendara mobil dan kapan kita harus berhenti dst. Kata-kata yang kita ucapkan adalah tanda-tanda dari realitas-realitas yang lebih mendalam yang sedang kita coba ungkapkan. Cara kita berjalan, atau ekspresi wajah kita, dapat memberi sinyal apa yang kita sedang rasakan. Kita memang membutuhkan tanda-tanda dan simbol-simbol. Itulah cara Allah menciptakan kita.

Dengan cara serupa, tanda-tanda yang diinspirasikan menceritakan kepada kita tentang kehadiran Allah dan mengungkapkan kebenaran-Nya. Dalam Kitab Suci, Yunus merupakan suatu tanda pertobatan dan belas kasih (Luk 11:30; Yun 3). Paulus memahami bahwa dua orang perempuan yang melahirkan dua orang anak Abraham sebagai tanda-tanda dari perjanjian lama dan perjanjian baru (Gal 4:22-27). Bahkan Yesus adalah tanda yang paling besar (Luk 2:34).

Apakah anda percaya, bahwa karena Roh yang hidup dalam dirimu, hidupmu dapat menjadi sebuah tanda yang menunjuk pada kemenangan salib? Sebuah tanda yang memimpin orang-orang lain untuk mencari Tuhan dalam doa? Sebuah tanda bahwa Kerajaan Allah adalah di sini? Lagi, apakah anda percaya bahwa cinta kita satu sama lain – dalam keluarga-keluarga dan gereja-gereja – dapat menjadi satu dari tanda-tanda kehadiran Yesus yang paling besar (Yoh 13:34-35)? Dan apabila satu badan lokal umat Kristiani merupakan sebuah tanda, bagaimana dengan gereja universal? Potensinya sangat besar! Apabila kita semua bergabung bersama, lalu mendedikasikan hati kita sepenuhnya bagi Yesus, dan berdoa syafaat bagi dunia, maka kuasa yang bersifat monumental dapat dilepaskan untuk menghancurkan ketidakpercayaan, kebencian yang sudah turun temurun dan prasangka yang sudah lama terpendam.

Pada Minggu pertama masa Prapaskah tahun 2.000, Almarhum Paus Yohanes Paulus II (sekarang sudah Santo) bersama tujuh orang kardinal dan uskup agung, mendoakan “doa mohon pengampunan”. Mereka mengakui tujuh area dosa – seperti dosa-dosa terhadap kesatuan tubuh Kristus, terhadap orang-orang Yahudi, dan terhadap kaum perempuan – atas nama anak-anak Gereja. Bayangkan kuasa yang dilepaskan oleh pertobatan ini, dan makna tanda ini bagi seluruh dunia. Sekarang, bayangkan apa yang dapat terjadi apabila seluruh Gereja secara harian berdoa dengan cara begini. Perpecahan yang ada di antara umat Kristiani dapat disembuhkan, permusuhan antara bangsa-bangsa dapat menjadi surut atau mereda, dan orang-orang yang tidak percaya dapat berbalik menjadi percaya kepada Allah!

DOA: Bapa surgawi, banyak anak-anak-Mu yang tertindih oleh penderitaan hidup. Ampunilah semua prasangka dan persatukanlah umat beriman yang masih terpecah-belah, agar dengan demikian kasih kami satu sama lain dapat menjadi sebuah tanda bagi dunia tentang kuasa dan kasih-Mu. Amin.  

Jakarta, 13 Oktober 2019 [HARI MINGGU BIASA XXVIII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVIII [Tahun C] – 9 Oktober 2016) 

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui-Nya. Mereka berdiri agak jauh dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu sujud di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu orang Samaria. Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu?” Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk 17:11-19)

Bacaan Pertama: 2Raj 5:14-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Kedua: 2Tim 2:8-13

Tidak kembalinya kepada Yesus sembilan orang kusta yang telah disembuhkan-Nya untuk berterima kasih penuh syukur kepada-Nya sungguh merupakan suatu hal yang mengecewakan. Kesembilan orang itu kehilangan kesempatan untuk menerima sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kesembuhan fisik. Memang kesembuhan yang telah mereka terima dari Yesus sudah termasuk kategori luarbiasa, bahkan bagi dunia kedokteran di abad ke-21 ini. Akan tetapi orang kusta yang kembali kepada Yesus untuk mengucap syukur kepada-Nya menerima sesuatu yang jauh lebih besar nilainya daripada kesehatan badani. Yesus berkata kepadanya: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Luk 17:19). Orang itu tidak hanya “dibersihkan” dari penyakit kusta, melainkan juga “diselamatkan”.

Sembilan orang kusta yang lain tidak berjumpa secara pribadi dengan Yesus dalam jarak yang dekat. Dari jarak jauh Yesus memerintahkan mereka untuk memperlihatkan diri kepada imam-imam. Mereka tidak pernah membangun suatu relasi dengan Yesus seperti yang telah dilakukan oleh orang yang kesepuluh. Relasi dengan Yesus ini adalah kebaikan yang sesungguhnya, karena hanya apabila kita bertumbuh dalam suatu relasi pribadi dengan Dia, maka kita menjadi anak-anak Allah dengan hati dan pikiran yang baru. Bersama dengan Yesus dalam suatu relasi cintakasih dan pemberian-diri – inilah arti sesungguhnya dari keselamatan.

Di dalam dunia kuno, penyakit kusta merupakan gambaran kondisi kemanusiaan sebagai akibat dari dosa. Seperti penyakit kusta ini membuat seseorang terbuang dari masyarakatnya, demikian pula dosa memutuskan hubungan kita dengan Allah yang merupakan Sumber dari kehidupan dan damai-sejahtera kita. Dalam keputus-asaan kita dapat berseru kepada Yesus dari kejauhan, dan Ia akan senantiasa menolong kita. Namun tujuan-Nya tidak akan tercapai jika kita hanya menerima pertolongan-Nya lalu pergi lagi mengikuti jalan kita sendiri-sendiri. Yesus menginginkan suatu relasi dengan kita masing-masing sebagai pribadi, di mana kita mengucap syukur kepada-Nya serta memuji Dia, kemudian Ia memberikan damai-sejahtera-Nya, penghiburan-Nya dan bimbingan-Nya kepada kita.

Dalam Misa Kudus pada hari Minggu ini, marilah kita datang kembali kepada Yesus dan berterima kasih kepada-Nya untuk apa saja yang telah dilakukan-Nya bagi kita. Marilah kita meletakkan hidup kita di hadapan-Nya dalam kasih dan dengan penuh kebebasan mengundang Dia untuk memerintah dalam pikiran dan hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, pada hari ini kami memuji-muji Engkau, seperti yang dilakukan orang Samaria yang telah Kausembuhkan dari penyakit kustanya. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah membersihkan dan menyelamatkan kami. Jagalah agar kami tetap dekat dengan diri-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Jakarta, 12 Oktober 2019

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS       

BERIKANLAH PUJIAN KEPADA ALLAH

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Sabtu, 12 Oktober 2019)

OFMCap. & OSCCap.: Peringatan Wajib S. Serafinus dr Montegranaro, Biarawan 

Ketika Yesus masih berbicara tentang hal-hal itu, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Tetapi Ia berkata, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” (Luk 11:27-28) 

Bacaan Pertama: Yl 3:12-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,11-12

Apa yang dikatakan oleh Yesus kepada perempuan itu adalah gema dari apa yang telah dikatakan-Nya kepada 70 murid-murid-Nya pada saat mereka kembali dari perjalanan misi mereka (Luk 10:17-20).

Pada waktu itu para murid memuji Dia dan diri mereka sendiri untuk kuasa nama Yesus atas roh-roh jahat. Kemudian Yesus meluruskan kembali “euforia” mereka dengan mengajar mereka: “Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga”  (Luk 10:20). Langsung setelah mengatakan hal itu Yesus juga bersukacita dalam Roh Kudus dan memuji Bapa-Nya di surga untuk apa yang dinyatakan-Nya kepada para murid-Nya.

Sekarang, ketika perempuan dalam bacaan Injil hari ini memuji Yesus dan ibunda-Nya dengan mendeklarasikannya sebagai “berbahagia” karena mengandung dan menyusui seorang nabi besar, sekali lagi Yesus meluruskan kembali pujian itu kepada Allah: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Luk 11:28). Yesus dapat membaca apa yang ada dalam pikiran perempuan itu, sebagaimana Dia sebelumnya dapat membaca apa yang ada dalam pikiran para murid-Nya yang baru kembali dari perjalanan misi mereka. Kepada para murid-Nya, Yesus memperingatkan, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit” (Luk 10:18). Dengan perkataan lain, seolah-olah Yesus mengatakan: “Jangan mengambil “kredit” seakan-akan kamu sendirilah yang melakukan pekerjaanmu. Itu adalah pekerjaan Allah, oleh karena itu berikanlah pujianmu kepada-Nya.”

Kepada perempuan dalam bacaan Injil hari ini Yesus memberikan nasihat serupa: “Apabila yang ibu maksudkan adalah, ‘sayang sekali aku tidak dapat menjadi ibunda Mesias,’ ingatlah, ibu dapat berada dekat dengan Allah juga. Ibu dapat mendengar sabda Allah dan memeliharanya juga. Itulah yang membuat ibu-Ku Maria, seorang perempuan besar. Ibu-Ku Maria senantiasa membawa privilese-privilese dan kehormatannya, demikian pula pencobaan-pencobaan yang dihadapinya, kemiskinannya dan kesulitan-kesulitannya ke dalam pujian kepada Allah. Ibu dapat melakukan hal yang sama, dan ibu akan diberkati, ibu akan berbahagia. Yang paling berbahagia dan terberkati adalah mereka yang mendengarkan sabda Allah, yaitu pesan-pesan-Nya, dan menanggapinya, mentaatinya, setia kepada sabda-Nya sepanjang hidup mereka. Baik ibu-Ku maupun Aku sendiri tidak mencari-cari pujian bagi diri kami sendiri. Hidup kami dimaksudkan untuk menjadi pujian bagi Bapa surgawi, dan kami memuji Bapa dengan memegang sabda-Nya, dengan melaksanakan rencana-Nya bagi kami.”

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menunjukkan arah tujuan hidupku. Berikanlah kepadaku terang agar mampu mendengarkan sabda-Mu, sabda Allah, dan memeliharanya dengan setia. Amin.

Jakarta, 11 Oktober 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MELAWAN KUASA KEGELAPAN DENGAN KUASA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Jumat, 11 Oktober 2019)

Tetapi ada di antara mereka yang berkata, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, pemimpin setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi, jika aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.”  Apabila roh jahat keluar dari seseorang, ia mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Ia pun pergi dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.” (Luk 11:15-26)

Bacaan Pertama: Yl 1:13-15;2:1-2; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:2-3,6,16,8-9

Dalam Injilnya, Santo Lukas melukiskan gambaran-gambaran jelas tentang realitas dan kuasa Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya, namun dia juga dengan cepat menunjukkan bahwa mereka bergetar ketakutan di hadapan hadirat Yesus, memohon-mohon untuk dikasihani. Dengan kata lain, sejago-jagonya Iblis, jauh lebih hebat dan penuh kuasalah Yesus kita.

Seperti yang telah dilakukannya ketika pertama kali memberontak melawan Allah (lihat Why 12:7 dsj.), Iblis dan begundal-begundalnya terus saja ber-adventure (melakukan “petualangan”) di atas muka bumi ini, dengan mencoba merampas dari Allah sebanyak mungkin anak-anak-Nya. Kalau saya mengatakan anak-anak-Nya, hal ini berarti termasuk juga para rohaniwan, biarawan dan biarawati, karena secara jujur tidak ada yang kebal terhadap serangan dari si “pangeran kegelapan” dan pasukannya. Jubah religius warna apa pun yang dipakai sungguh tidak akan menjamin. Dengan berbagai cara, halus maupun kasar, Iblis dan roh-roh jahat pendukungnya akan mengganggu serta menggoda agar kita ragu-ragu atau berpikiran lain atas berbagai  butir kebenaran yang selama ini kita telah terima dari Kitab Suci dan Gereja. Rasa percaya kita pada cintakasih Bapa surgawi serta pemeliharaan-Nya atas diri kita semua, terus saja digerogoti dengan berbagai macam cara oleh si Jahat dan kawan-kawannya.

Yesus sendiri telah mengalami cobaan dan godaan agar Ia tidak percaya pada kuasa Bapa-Nya, menaruh hasrat pada kekuasaan, mengejar hal-hal duniawi dan mempunyai ambisi untuk kepentingan diri-sendiri (lihat Luk 4:1-13). Namun karena kasih-setia-Nya kepada Allah, Yesus memenangkan “pertempuran”-Nya dengan Iblis pada waktu itu. Oleh nama, darah dan salib-Nya, Yesus menyediakan pembebasan dan kemerdekaan bagi kita semua, hanya kalau kita mau dan mampu belajar terus untuk menggantungkan diri kepada-Nya. Yesus tentu sangat senang untuk membebaskan kita dari yang jahat (ingat: Doa Bapa Kami). Ia sangat senang untuk membuat kita semua menjadi orang-orang merdeka dalam arti kata sesungguhnya. Namun bagi Yesus pembebasan dari yang jahat – meski penuh kuasa sekali pun – hanyalah sekadar sebuah pintu masuk kepada suatu rahmat yang lebih besar. Yesus ingin membebaskan diri kita, sehingga Dia dapat mengisi hidup kita dengan hidup-Nya sendiri. Dia ingin memerdekakan kita dari keterikatan pada dosa, sehingga kita akan menjadi lebih terbuka bagi kehidupan, cintakasih dan kuasa Allah Tritunggal.

Hari ini tanyakanlah pada diri anda sendiri, “Bagaimana aku memandang kehidupanku? Apakah aku memandang diriku sebagai seorang pendosa yang masih berjuang terus untuk sungguh mengasihi Allah? Apakah aku seorang pencinta Allah yang masih memerlukan pembebasan dari dosa-dosaku yang serius? Apakah aku masih memiliki harapan di masa depan?  Apakah aku melihat potensi kekudusan dan pelayanan yang telah ditaruh Allah dalam diriku? Apakah ada harapan bagiku untuk menyelusup ke dalam surga kelak? Dalam doa-doa kita mohonlah agar Yesus membuka mata kita lebih lebar lagi. Biarlah Dia meyakinkan kita masing-masing tentang kemenangan-mutlak-Nya atas Iblis dan roh-roh jahat, agar kita dengan penuh percaya-diri menerima semua berkat yang telah dimenangkan sang Juruselamat bagi kita semua.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima-kasih kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Yesus untuk menghancurkan kuasa Iblis. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan penuhilah setiap sudut kehidupanku. Aku ingin menjadi pemenang bersama-Mu. Amin.

Jakarta, 10 Oktober 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

DENGAN RENDAH HATI DAN TEKUN BERDOA KEPADA BAPA DALAM NAMA YESUS

Image result for IMAGES OF LUKE 11:5-13

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Kamis, 10 Oktober 2019)

OFM: Peringatan Wajib S. Daniel dkk. Martir 

Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya  kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:5-13) 

Bacaan Pertama: Mal 3:13-4:2a; Mazmur Tanggapan:Mzm 1: 1-4,6 

Perumpamaan Yesus tentang sahabat yang tekun ini menunjukkan kepada kita betapa Dia berkeinginan untuk menjawab doa-doa kita. Kita adalah anak-anak Allah, dan seperti orangtua mana saja yang baik, Bapa surgawi mau memberikan kepada kita. Apabila kita dengan setia dan rendah hati mengikuti Tuhan Yesus, maka Bapa surgawi akan memberikan kepada kita segalanya yang kita minta dalam nama-Yesus. Hati yang rendah dan penuh ketekunanlah yang mengenal hiburan Tuhan.

Ketika Abraham berdoa syafaat untuk Sodom (lihat Kej 18:20-32), dia cukup rendah hati untuk mengetahui bahwa hanya Allah sajalah yang dapat menyelamatkan orang-orang di Sodom itu. Dia tahu bahwa situasi mereka sudah sangat susah. Dia tidak tahan lagi melihat mereka dihukum, maka dia pun memanjatkan doa permohonan kepada Allah bagi orang-orang itu. Hati yang rendah dan penuh semangat seperti hati Abraham menyenangkan Allah.  Karena doa syafaat Abraham yang tekun itu, maka sepupunya Lot dan dua orang anak perempuannya dibebaskan dari penghakiman yang ditimpakan atas penduduk Sodom. Bayangkan sekarang, apa yang akan terjadi apabila kita berdoa kepada Bapa surgawi dalam nama Yesus!

Yesus berkata kepada para murid-Nya, “… jika kamu … tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya”  (Luk 11:13). Selagi kita memasuki hadirat Tuhan dalam doa, kita mendapat kesempatan untuk mengatakan: “Tuhan, aku tahu bahwa aku tidak mempunyai semuanya yang kubutuhkan untuk menyenangkan-Mu hari ini. Aku membutuhkan rahmat-Mu. Aku perlu menerima hidup dari-Mu. Penuhilah aku dengan Roh-Mu.” Kemudian, dipenuhi dengan rahmat, kita pun dapat bergerak terus dengan berdoa bagi orang-orang lain – sesempurna seperti yang telah dilakukan oleh Abraham.

Marilah kita sekarang berseru kepada Allah agar dia memberkati setiap orang di muka bumi ini. Marilah kita berdoa agar semua orang dapat mengenal Tuhan Yesus. Selagi kita membuka diri kita bagi Roh Kudus, Ia akan mengajar kita bagaimana berdoa. Dia akan mengajar kita untuk menjadi seperti sang sahabat yang penuh ketekunan itu, yang tak pernah malu dan kendur-semangat mengajukan permintaan-permintaannya di hadapan Dia yang dapat memenuhi segala kebutuhan kita.

DOA: Bapa surgawi, berikanlah kepada kami hati yang merindukan berkat-berkat-Mu atas segala sesuatu. Curahkanlah Roh-Mu ke atas bangsa-bangsa, ya Tuhan, sehingga semua orang dapat mengenal Engkau dan hidup untuk-Mu. Amin. 

Jakarta, 9 Oktober 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS