KAMU MENGABAIKAN KEADILAN DAN KASIH TERHADAP ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignasius dr Antiokhia, Uskup & Martir – Rabu, 17 Oktober 2018) 

“ ……… Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih terhadap Allah. Hal-hal tersebut harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lainnya. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terbaik di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya, “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Tetapi Ia menjawab, “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun. ………” (Luk 11:42-46) 

Bacaan Pertama: Gal 5:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

“Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih terhadap Allah. Hal-hal tersebut harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lainnya.” (Luk 11:42)

Bayangkanlah kita mengundang seorang tamu istimewa untuk makan bersama di rumah kita dan kemudian kita malah “dimaki-maki” dan dihina, demikian pula para tamu lain yang hadir. Tamu macam apa yang akan menyerang tuan rumah dengan kata-kata yang terasa sangat keras itu? Seperti seekor singa ganas yang menyerang mangsanya, Yesus – singa dari suku Yehuda (Why 5:5) – menyerang sikap negatif yang telah begitu lama mengendap dalam hati orang-orang Farisi.

Itulah yang dengan keras diserukan oleh Yesus, namun pernyataan seperti ini dapat dengan mudah disalah-artikan, maka baik untuk ditelaah lebih lanjut. Di sini Yesus samasekali tidak mengutuk praktek-praktek keagamaan yang melampaui apa yang disyaratkan sebagai tugas-kewajiban. Yang membuat Yesus menyalahkan orang-orang Farisi adalah kenyataan bahwa mereka mengabaikan keadilan dan kasih terhadap Allah. Mereka sebenarnya dapat mematuhi segala persyaratan hukum Musa tanpa harus mengabaikan praktek-praktek keagamaan mendasar lainnya. Keadilan dan kasih terhadap Allah adalah aspek-aspek penting kehidupan rohani yang dipuji oleh Yesus. Kata “keadilan” (Inggris: justice; Yunani: krisis) berarti “hak (teristimewa hak dari mereka yang tertindas) yang dibenarkan oleh Allah”, sang Hakim yang adil. Oleh karena itulah Yesus mencela orang-orang Farisi karena mereka tidak mempedulikan hak-hak “wong cilik”.

“Kasih kepada/terhadap Allah” di sini dalam Alkitab berbahasa Inggris disebut the love of God (mis. Revised Standard Version (RSV) –Catholic Edition dan The New Jerusalem Bible (NJB), dan juga the love for God (mis. The New American Bible (NAB) dan Good News Bible (TEV). Mungkin seseorang yang ahli/mahir sekali dalam bahasa Yunani dapat menerjemahkan kata aslinya dengan tepat. Dari kedua terjemahan yang berbeda dalam bahasa Inggris tadi, saya dapat mengatakan bahwa ungkapan itu dapat berarti “kasih Allah bagi semua orang” atau “kasih yang harus dirasakan dan ditunjukkan oleh orang-orang kepada Allah” sementara mereka menjadi sadar akan kenyataan betapa besar kasih dan kerahiman-Nya, yang diwujudkan dalam hidup mereka. Perwujudan paling agung dari kasih Allah kepada kita ini adalah kematian yang menyelamatkan dari Yesus Kristus – Putera Allah – serta kebangkitan-Nya. “Telur dulu atau ayam dulu nih?” Oleh karena itu, baiklah kita membuat apa yang ditulis Yohanes berikut ini sebagai pegangan abadi bagi kita: “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1Yoh 4:19). Jadi kalau kita mau ketat dalam terjemahan Inggrisnya, beginilah hasilnya: The love of God bagi kita dari pihak Allah, menyebabkan kita mengungkapkan the love for God. Karena ini bukan pelajaran bahasa Inggris, maka baiklah kita kembali kepada teks yang sedang kita renungkan.

Kata-kata Yesus kepada orang-orang Farisi itu harus mendorong kita untuk melakukan pemeriksaan batin. Kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah kita cukup bermurah hati dalam hal berbagi uang kita, harta-milik kita lainnya, waktu kita, dan cintakasih kita (bukan dalam arti cinta seksual) kepada orang-orang lain yang membutuhkan? Apakah kita memiliki semangat berapi-api untuk tidak mengabaikan praktek-praktek keagamaan yang telah ditetapkan, sementara masih memendam dalam hati kita rasa-marah, akar-kepahitan atau pikiran-pikiran untuk membalas dendam terhadap anggota-anggota keluarga yang kita rasakan telah men’dzalimi’ diri kita? Apakah kita rajin menghadiri Perayaan Ekaristi dan kegiatan gerejawi lainnya, padahal kita terus melibatkan diri dalam praktek bisnis yang busuk, korup dan tidak etis? Apakah pada hari Minggu kita merupakan SANTA atau SANTO teladan, sedangkan dari hari Senin sampai dengan Sabtu kita sibuk dengan kegiatan/praktek SANTET terhadap para pesaing kita dalam karir atau bisnis? Kita tidak seharusnya menjadi takut kepada implikasi-implikasi dari kata-kata Yesus atas kehidupan kita. Malah kata-kata Yesus itu dapat menolong kita untuk dapat melihat dengan lebih jelas lagi sejumlah unsur sentral dari suatu kehidupan Kristiani yang lebih sehat.

DOA: Tuhan Yesus, semoga Roh Kudus-Mu menyelidiki relung-relung hatiku yang terdalam dan mengajarkan aku kebenaran-kebenaran jalan-Mu. Semoga kehidupanku mencerminkan kepenuhan Injil. Tolonglah aku untuk mempraktekkan keadilan dan cintakasih kepada Allah dengan kesadaran penuh, bahwa Allah telah mengasihiku terlebih dahulu. Amin.

Jakarta,  16 Oktober 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

PENGHAYATAN IMAN YANG BENAR

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII – Selasa, 16 Oktober 2018)

SCJ: Peringatan S. Margareta Maria Alacoque, Perawan 

Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Ia masuk ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu heran melihat bahwa Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Hai orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu. (Luk 11:37-41) 

Bacaan Pertama: Gal 4:31b-5:6; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:41,43-45,47-48

Tidak jarang kata-kata, sikap dan perilaku Yesus menyebabkan kontroversi di mata kaum Yahudi yang “saleh”, antara lain karena Dia tidak mengikuti semua praktek keagamaan tradisional yang berlaku pada zaman itu. Misalnya, orang Yahudi wajib untuk mematuhi seperangkat aturan yang kompleks berkaitan dengan bagaimana berperilaku dalam bermacam-macam situasi, untuk menjaga kemurnian ritual. Yesus dan para murid-Nya tidak selalu melaksanakan upacara cuci tangan sebelum makan (Luk 11:38). Dengan mengabaikan praktek-praktek sedemikian, Yesus mencoba mengajar apa yang sebenarnya bersifat sentral dalam penghayatan iman-kepercayaan sebuah agama.

Unsur-unsur eksternal dari praktek keagamaan telah begitu menjadi beban-berat bagi umat, sehingga mereka menjadi tidak fokus pada hakekat atau jiwa agama yang benar. Misalnya, seseorang diizinkan mempersembahkan harta-miliknya untuk Allah dan dengan demikian diperkenankan untuk tidak melakukan kewajiban membantu orangtuanya seandainya mereka mempunyai kebutuhan (Mat 15:3-6). Yesus mengajarkan bahwa praktek keagamaan dalam dirinya bukanlah tujuan, karena praktek tersebut harus dikaitkan dengan cintakasih kepada Allah dan sesama (baca: Luk 6:1-11). Allah  menghendaki belas kasihan dalam hati dan tindak-tanduk kita (lihat Mat 9:13).

Yesus memiliki keprihatinan besar terhadap orang-orang miskin, para pendosa, orang-orang yang terbuang, para janda, orang-orang asing dan mereka yang suka melawan. Ia mengajarkan bahwa mengasihi Allah dan sesama dengan sepenuh hati merupakan perintah hukum yang paling besar (lihat Luk 10:25-28). Mengasihi sesama merupakan penggenapan hukum (lihat Rm 13:8-10) sehingga tindakan karitatif merupakan sebuah tanda seseorang itu benar di hadapan Allah. Bagi Lukas, pemberian derma atau sedekah merupakan bagian hakiki dari kehidupan Kristiani dan suatu pencerminan keadaan hati yang benar dari seseorang (Luk 11:41).

Lukas secara istimewa memiliki keprihatinan atas kebutuhan orang-orang miskin. Injil yang ditulisnya sebenarnya ditujukan kepada sebuah komunitas yang sebagian besar anggotanya adalah non-Yahudi dan orang-orang kotaan (urban) yang mempunyai posisi relatif baik dalam masyarakat. Keprihatinan Lukas di sini adalah agar orang-orang “yang nggak miskin-miskin amat” ini juga percaya kepada Yesus dan menghayati kehidupan seperti Yesus yang mengasihi orang-orang miskin, “wong cilik” zaman itu. Cintakasih kepada orang-orang kecil itu dicerminkan dalam praktek pemberian derma atau sedekah.

Sebuah hati yang dipenuhi kuasa ilahi akan membawa cintakasih Kristus kepada orang-orang lain melalui tindakan kasih (karitatif), bela-rasa dan pewartaan Injil. Penghayatan iman dari sebuah agama yang benar akan membuat seseorang melakukan pembalikan total dalam sikap dan perilakunya, dari yang semula memusatkan segalanya kepada kepentingan diri sendiri, menjadi pemusatan segalanya kepada Allah dan tentunya orang-orang lain. Artinya, menjadi lebih terbuka kepada orang-orang lain, dan menanggapi secara positif terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka. Tindakan-tindakan karitatif mencerminkan penghayatan iman yang benar manakala tindakan-tindakan itu dilakukan demi kemuliaan Allah dan didasarkan motivasi cintakasih kepada sesama (lihat misalnya Luk 21:1-4).

DOA: Tuhan Yesus, buatlah agar aku dapat bertumbuh dalam penghayatan iman yang benar. Semoga iman-kepercayaanku kepada-Mu mentransformasikan hatiku. Anugerahkanlah kepadaku, ya Yesus, cintakasih kepada sesamaku, teristimewa mereka yang miskin, tersisihkan dalam masyarakat, “wong cilik”, yang menggantungkan segala harapan pada Allah yang Mahapengasih; kaum “anawim” zaman ini. Semoga cintakasih kepada sesama yang Kauanugerahkan kepadaku dapat diungkapkan dalam kemauanku untuk memberi kepada mereka yang membutuhkan pertolongan. Amin. 

Jakarta, 15 Oktober 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SELAIN TANDA NABI YUNUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Teresia dr Yesus, Perawan & Pujangga Gereja – Senin, 15 Oktober 2018) 

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”  (Luk 11:29-32) 

Bacaan Pertama: Gal 4:22-24,26-27,31 – 5:1; Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-7

Kitab Yunus mengisahkan cerita tentang seorang nabi yang diutus Allah kepada kota kafir yang besar dan kuat, kota Niniwe. Seperti nabi-nabi Perjanjian Lama yang lain, pada mulanya Yunus merasa ragu-ragu. Dia bahkan mencoba melarikan diri. Setelah ‘retret’ selama tiga hari tiga malam di dalam perut seekor ikan besar, barulah Yunus yakin bahwa Allah sungguh serius dalam pengutusan dirinya. Bayangkanlah hasil akhirnya: Hanya beberapa patah kata yang diucapkan Yunus telah membuat seluruh kota melakukan pertobatan secara dramatis, dan lewat dirinya mereka pun diselamatkan dari penghakiman Allah (lihat Yun 3:4-6.10).

Sebagai seorang Yahudi saleh, Yesus tentu akrab dengan cerita nabi Yunus ini, demikian pula banyak orang lainnya di Israel. Oleh karena itu, ketika ada orang yang mencobai Dia dengan meminta suatu tanda, maka Yesus menggunakan cerita Yunus sebagai dasar dari jawaban-Nya. Yesus bersabda: “Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus” (Luk 11:29). Apakah yang dimaksud oleh Yesus dengan “tanda Nabi Yunus” ini? Mukjizat apa dalam cerita ini yang menunjuk kepada rahmat dan kuat-kuasa Allah? Memang luarbiasa Yunus itu, dia mampu survive di dalam perut seekor ikan besar selama tiga hari tiga malam! Tetapi yang lebih luarbiasa lagi adalah gerakan pertobatan di seluruh Niniwe, dimulai dengan sang raja sendiri (lihat Yun 3:6). Orang-orang Yahudi dapat dikatakan memahami bahwa pesan Yesus lewat kisah nabi Yunus adalah sebuah pesan agar mereka bertobat (lihat Luk 11:29.32).

Yesus mengatakan kepada orang banyak yang mengikuti-Nya, bahwa tanda satu-satunya yang akan diberikan oleh-Nya adalah tanda Nabi Yunus (Luk 11:29). Ia sendiri sebenarnya cukup sebagai tanda bagi mereka, seperti Yunus adalah sebuah tanda bagi orang-orang Niniwe. Pada waktu Yunus datang membawakan berita pertobatan yang sederhana kepada penduduk kota kafir ini, maka mereka menanggapi pemberitaannya dengan melakukan pertobatan secara mendalam dan iman yang mendalam kepada Allah. Yesus mewartakan pesan pertobatan yang sama kepada orang banyak yang mengikuti-Nya. Dengan menyebut mereka “generasi jahat” (lihat Luk 11:29) Yesus mengingatkan mereka, bahwa mereka akan dihakimi untuk kekerasan-kepala dan ketidak-percayaan mereka. Yesus juga menyebut Ratu Sheba, yang mengakui hikmat-kebijaksanaan Salomo (lihat Luk 11:31). Mengapa para pendengar-Nya tidak dapat mengakui hikmat-kebijaksaan Yesus yang jauh lebih besar daripada yang ada pada diri Salomo? Siapa yang menghakimi? Orang-orang Niniwe yang telah bertobat karena pemberitaan Yunus, karena “sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus” (Luk 11:32).

Dalam ajaran-ajaran dan tindakan-tindakan-Nya, Yesus adalah contoh paling sempurna, Dia menantang segala macam ketidak-kudusan dengan hidup-Nya yang murni dan kudus sebagai Putera Allah. Setiap hal yang dilakukan dan dikatakan Yesus menunjuk pada Bapa-Nya. Jauh lebih daripada Yunus, Yesus adalah suatu “tanda” yang mewujudkan Kerajaan Allah dan menyerukan agar orang-orang sungguh melakukan pertobatan. Kehadiran-Nya membuat setiap orang berada dalam situasi krisis, karena sebagai Terang Dunia Yesus mengungkap kondisi hatinya yang terdalam. “Tanda” ini dimaksudkan untuk memanggil orang-orang kembali kepada Allah. Oleh karena itu marilah kita mendengar baik-baik seruan Yesus agar kita melakukan pertobatan. Marilah kita mencari hikmat-kebijaksanaan dan bimbingan-Nya dalam hidup kita. Seperti orang-orang Niniwe yang melakukan pertobatan secara dramatis, maka kita pun harus meninggalkan segala sikap dan perilaku yang membuat-Nya sedih dan menyakiti mereka yang kita kasihi.

Dengan pertolongan Roh Kudus, marilah kita memohon kepada Tuhan agar kita dapat mengidentifikasikan dua atau tiga area dalam kehidupan kita di mana Yesus memanggil kita untuk melakukan perubahan. Kita mohon kepada Roh Kudus agar kepada kita diberikan kekuatan untuk dapat bertekun dan maju terus. Percayalah bahwa Allah sungguh mau menolong kita mengubah area-area kehidupan kita yang belum mencerminkan damai-sejahtera dan kasih-Nya. Sekarang, apakah kita sungguh terbuka terhadap undangan Allah kepada pertobatan?

DOA: Tuhan Yesus, seperti orang-orang Niniwe yang mendengarkan pesan pertobatan yang diserukan nabi Yunus, seperti Ratu Sheba yang mengakui hikmat-kebijaksanaan Salomo, maka aku berketetapan hati mendengarkan panggilan-Mu kepadaku untuk melakukan pertobatan dan mencari hikmat-kebijaksanaan-Mu dalam hidupku. Utuslah Roh Kudus-Mu kepadaku dan kepada semua orang hari ini guna membimbing kami semua. Semoga berkat rahmat-Mu aku mampu meninggalkan dosa-dosaku dan membalikkan hatiku kembali kepada-Mu. Amin. 

Jakarta, 14 Oktober 2018 [HARI MINGGU BIASA XXVIII – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HANYA SATU LAGI KEKURANGANMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa XXVIII [TAHUN B] – 14 Oktober 2018) 

Pada waktu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Mengapa kaukatakan Aku baik?” Tak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui perintah-perintah ini: Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, jangan menipu orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka, “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus berkata lagi, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.” (Mrk 10:17-27) 

Bacaan Pertama: Keb 7:7-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:12-17; Bacaan Kedua: Ibr 4:12-13 

Bacaan Injil hari ini sebenarnya Mrk 10:17-30 atau Mrk 10:17-27 (versi pendek). Versi pendek  dipilih atas dasar pertimbangan praktis disebabkan keterbatasan ruang untuk menulis. Kalau kita melihat juga bacaan-bacaan sejajar yang terdapat dalam Mat 19:16-26 dan Luk 18:18-27, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa orang yang mendatangi Yesus itu adalah seorang yang kaya (Mrk 10:22; Mat 19:22, Luk 18:24), masih muda-usia (Mat 19:20), memegang kuasa kepemimpinan (Luk 18:18), dan hidup kerohaniannya juga baik (Mrk 10:20; Mat 19:20; Luk 18:21). Sekilas lintas, kelihatannya orang itu sudah memiliki segalanya. Namun ia mengajukan sebuah pertanyaan kepada Yesus yang kiranya sudah lama terpendam dalam hatinya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mrk 10:17).

Kelihatan di sini, bahwa upayanya untuk menghayati kehidupan bermoral – bagaimana pun berhasilnya – tidak mampu memberikan kepadanya kedamaian dan keamanan yang selama itu dihasratinya. Sambil memandang orang muda-kaya itu dengan penuh kasih Yesus lalu melangkah melampaui perintah untuk sekadar tidak berdosa. Yesus mengundang orang itu untuk hidup dekat dengan diri-Nya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Mrk 10:21). Ternyata, orang itu meninggalkan Dia dengan sedih hati. Berikut ini adalah catatan paling menyedihkan tentang pemuridan /kemuridan dalam Injil Markus: “Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya” (Mrk 10:22). Walaupun Yesus telah mengucapkan kata-kata yang paling dibutuhkannya, orang itu begitu terlekat pada harta-bendanya. Orang itu telah membuat pilihannya antara dua alternatif pilihan: Yesus atau harta-bendanya. Ternyata dia memilih harta bendanya.

Cerita ini dapat memprovokasi pertanyaan-pertanyaan penting: Apakah sungguh cukup bagi seseorang untuk sekadar melakukan kebaikan dan tidak berdosa? Ataukah kita masih merindukan sesuatu yang lebih? Apakah keprihatinan kita akan status sosial atau prestise profesional, atau kenyamanan atau kepemilikan materiil, menghalangi diri kita menerima undangan Yesus untuk masuk ke dalam pemuridan/kemuridan yang lengkap dan total? Pada akhirnya, semua itu akan mengendap menjadi satu pertanyaan saja: Apa/siapa yang sesungguhnya memerintah atas diri kita?

Beato Charles de Foucauld [pernah menulis, bahwa panggilan di sini “adalah panggilan Allah sendiri. Oleh karena itu kita tidak ‘memilih panggilan’, melainkan berupaya untuk menemukan panggilan kita, untuk melakukan segalanya yang dapat kita lakukan agar dapat mendengar Suara Ilahi yang memanggil-manggil kita, untuk meyakinkan diri kita apa yang dikatakan-Nya – dan kemudian mentaati-Nya.” Jadi, masalahnya di sini bukanlah mengikuti formula atau rumusan yang benar. Masalahnya yang penting adalah mendengar panggilan Allah dan menyerahkan setiap ketertarikan dan kelekatan yang selama ini menghalangi kita untuk mengenal diri-Nya secara akrab.

Pada saat kita mencari Yesus dalam doa atau menyambut-Nya dalam Komuni Kudus, Ia berjumpa dengan kita dengan pandangan penuh kasih yang sama seperti yang ditunjukkan-Nya ketika memandang orang muda-kaya itu – suatu pandangan yang menembus hati kita dan menyatakan kepada kita harta sesungguhnya dari hati kita. Pada hari ini, marilah kita bersimpuh di bawah pandangan penuh kasih Yesus, dan kita pun akan mengenal dan mengalami suatu keintiman yang tidak pernah dapat diberikan oleh hal-hal duniawi.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan keberadaan diriku sepenuhnya kepada-Mu. Selidikilah hatiku dan tunjukkanlah kepadaku apa saja yang menghalangi aku untuk menjawab panggilan-Mu dalam setiap saat hidupku. Amin.

Jakarta, 13 Oktober 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPA YANG BERBAHAGIA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Sabtu, 13 Oktober 2018)

Keluarga Kapusin (OFMCap.): Peringatan B. Honoratus Kosminski, Biarawan 

Ketika Yesus masih berbicara tentang hal-hal itu, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Tetapi Ia berkata, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” (Luk 11:27-28) 

Bacaan Pertama: Gal 3:22-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:2-7

Pada suatu hari, ketika Yesus sedang mengajar, seorang perempuan dari antara orang banyak berseru: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau” (Luk 11:27). Kata-kata yang dilontarkan oleh perempuan ini adalah cara orang Semit (antara lain Yahudi) untuk mengatakan sesuatu seperti ini: “O, menjadi ibu dari seorang anak yang sedemikian besar!”  Perempuan itu jelas terkesan dengan Yesus dan dia mengucapkan kata-kata itu sebagai suatu penghargaan yang tulus terhadap Yesus (dan ibu-Nya). Namun demikian Yesus menggunakan kata-kata yang diucapkan perempuan itu sebagai suatu kesempatan  menantang siapa saja agar supaya mau mendengarkan fiman Allah dan mematuhinya (Luk 11:28).

 XXVIKita semua tahu bahwa peristiwa ini terjadi dalam perjalanan Yesus menuju Yerusalem. Satu pelajaran yang diinginkan Yesus untuk kita pelajari dalam perjalanan ke Yerusalem ini adalah apa artinya menjadi seorang murid Yesus. Tanggapan Yesus terhadap seruan-pujian perempuan itu merupakan inti makna kemuridan (pemuridan): Seorang murid adalah seseorang yang mendengar firman Allah dan memeliharanya. Sebelumnya Yesus telah mengindikasikan bahwa kebundaan-biologis harus diletakkan di bawah relasi yang terbuka terhadap semua orang yang mendengar dan mematuhi firman-Nya (lihat Luk 8:19-21).

Kita harus menyadari bahwa Yesus samasekali tidak bermaksud untuk menyepelekan ibu-Nya dengan kata-kata yang diucapkan-Nya tentang mendengarkan dan melaksanakan firman Allah itu. Pada kenyataannya Maria adalah seorang murid par excellence, ‘model’ seorang murid Yesus. Lukas mengindikasikan hal ini dalam lebih dari satu peristiwa. Dalam peristiwa-peristiwa itu Lukas menggambarkan bagaimana Maria menyimpan segala sesuatu dalam hatinya dan merenungkannya (lihat Luk 2:19.51) – sikap dan perilaku yang harus ditunjukkan oleh setiap murid Yesus yang sejati. Kita juga diingatkan kepada sebuah peristiwa yang digambarkan dalam Injil Yohanes, yaitu ‘Perkawinan di Kana’ (Yoh 2:1-11), di mana Maria mohon pertolongan bagi keluarga yang mempunyai hajat, karena ada urgensi kehabisan anggur. Tanggapan Yesus terhadap permintaan tolong Maria terkesan keras dan menolak, “Mau apakah engkau dari Aku, perempuan? Saat-Ku belum tiba” (Yoh 2:4), namun dengan penuh keyakinan Maria berkata kepada para pelayan: “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” (Yoh 2:5). Ini adalah sikap dan perilaku seorang murid sejati!

DOA: Tuhan Yesus,  tolonglah aku agar dapat menjadi seorang murid-Mu yang sejati. Aku tahu bahwa hal ini berarti bahwa aku harus mendengarkan apa yang Kauperintahkan dan mematuhinya dengan hati yang terbuka dan penuh kemauan. Aku mau melakukan apa saja yang Kauminta dari diriku, dengan cara seturut permintaan-Mu, untuk kurun waktu seturut permintaan-Mu juga, justru karena Dikaulah yang meminta. Aku berdoa agar Roh Kudus-Mu memampukanku untuk meneladan Bunda Maria, ibu-Mu dan ibuku: menyimpan dalam hatiku segala hal yang Kaukatakan dan Kaulakukan, apa pun yang Kauperintahkan untuk aku lakukan. Tuhan Yesus, terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Jakarta, 12 Oktober 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFSAN YANGBA

YESUS VS IBLIS DAN ROH-ROH JAHATNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Jumat, 12 Oktober 2018)

Kel. Kapusin (OFMCap.): Peringatan S. Serafinus dari Montegranaro, Biarawan 

Tetapi ada di antara mereka yang berkata, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, pemimpin setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi, jika aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.”  Apabila roh jahat keluar dari seseorang, ia mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Ia pun pergi dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.” (Luk 11:15-26) 

Bacaan Pertama: Gal 3:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-6

Pernahkah anda tergoda untuk berpikir bahwa anda dapat menjalani kehidupan ini tanpa Allah? Pada saat-saat seperti itulah Iblis datang dan menggoda kita. Dia dapat membuat kita berpikir yang tidak-tidak tentang orang lain atau melakukan sesuatu yang tidak baik terhadap orang lain itu. Dia juga dapat membujuk kita untuk berhenti berdoa; dengan memberikan alasan sinetron tertentu atau acara “infotainment”di televisi lebih mengasyikkan daripada berdoa, yang tokh tak pernah dikabulkan oleh Allah dll. Salah satu taktik favorit Iblis adalah menyulut konflik di antara umat Allah, teristimewa di dalam keluarga-keluarga kita.

Akan tetapi, percayalah bahwa apabila kita sungguh bersatu dengan Yesus, Iblis tidak akan menang! Pada waktu Yesus mencurahkan darah-Nya dari atas kayu salib, Ia menjembatani kesenjangan yang selama itu memisahkan antara kita-manusia dengan Allah Bapa di surga. Yesus mempersatukan kita dengan diri-Nya dan memberdayakan kita agar mampu mengatasi dosa, kematian, dan Iblis serta roh-roh jahat pengikutnya. Yesus meneguhkan – artinya mengkonfirmasi – tempat kekal yang ‘ditakdirkan’ bagi kita di hadirat-Nya di surga. Dia mencabut dosa dari hati kita sehingga kebenaran-Nya dapat berakar-kuat dalam diri kita masing-masing. Allah, Bapa kita di surga mengklaim kita sebagai anak-anak-Nya. Inilah kuat-kuasa dari Injil: Iblis tidak lagi berkuasa atas diri kita. Kita dibebaskan dari cengkeraman si Jahat dan sekarang dipegang oleh tangan-tangan penuh kasih dari Bapa surgawi.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, ingatlah siapa sebenarnya diri anda dan apa yang telah diberikan kepada anda masing-masing. Yesus merasa senang  apabila kita menempatkan diri kita lebih kokoh lalgi dalam penebusan yang dimenangkan oleh-Nya bagi kita. Oleh karena itu, baiklah kita mempersembahkan diri kita dan semua anggota keluarga kita kepada Yesus setiap hari. Baiklah kita menempatkan rasa percaya kita dalam otoritas lengkap dari darah-Nya. Kuat-kuasa dari darah Yesus jauh melebihi wacana perdebatan para teolog. Umat Kristiani yang biasa-biasa saja mengalami kuat-kuasa darah Yesus itu dalam kehidupan mereka sehari-hari. Marilah kita berdoa memohon agar darah-Nya melindungi seluruh keberadaan kita dan mereka yang kita kasihi. Di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di dalam mobil angkot, pokoknya di mana saja, kita dapat berdoa mohon perlindungan oleh darah Yesus, dan Iblis dan roh-roh jahat pun akan lari.

Ketika kita mohon kepada Yesus untuk menyembuhkan kita dan memulihkan relasi yang telah dirusak oleh dosa dan oleh Iblis dkk., maka Dia memenuhi diri kita dengan kasih dan bela rasa. Yesus akan menunjukkan kepada kita bagaimana perjuangan kita bukanlah melawan orang-orang lain yang kelihatan, melainkan melawan kuasa-kuasa kejahatan yang bersifat spiritual. Ia juga akan menunjukkan kepada kita bahwa dalam pertempuran melawan kejahatan, kepada kita telah diberikan perlengkapan-perlengkapan senjata kebenaran, keadilan, kerelaan untuk memberitakan Injil damai-sejahtera, iman, keselamatan,  dan sabda-Nya (Ef 6:14-17). Marilah kita terjun ke dalam pertempuran spiritual ini pada hari ini, percaya penuh bahwa dalam Kristus kita mempunyai segalanya yang diperlukan.

DOA: Roh Kudus, kami percaya akan kuat-kuasa-Mu untuk menyembuhkan apa yang telah dirusak dan mengumpulkan serta menyatukan kembali apa saja yang telah dicerai-beraikan. Lingkupilah kami dengan darah Yesus dan ikatlah kami bersama dalam kasih Bapa. Kami tidak percaya pada diri kami sendiri, melainkan percaya kepada  Allah Tritunggal Mahakuus saja. Amin.

Jakarta, 11 Oktober 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS AKAN DIBERIKAN OLEH BAPA SURGAWI KEPADA MEREKA YANG MEMINTA KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Kamis, 11 Oktober 2018) 

Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya  kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:5-13) 

Bacaan Pertama: Gal 3:1-5; Mazmur Tanggapan: 1:69-75 

Apakah artinya iman apabila tidak diiringi dengan rasa percaya (trust) dan ketekunan? Allah menginginkan kita untuk menjadi orang yang tidak bergeming sampai sahabat-tetangganya memberikan kepadanya semua yang dibutuhkannya. Allah ingin agar kita datang kepada-Nya dengan penuh gairah serta menghasrati berkat-Nya dan mempunyai harapan Ia akan memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan. Jika Ia tidak langsung memberikan apa yang kita mohonkan, maka hal itu tidak disebabkan Ia terlalu sibuk dengan hal-hal lain atau memang tidak cukup memperhatikan kita. Seringkali, Ia ingin agar kita menunggu karena Dia mengetahui bagaimana ketekunan yang mendalam dapat mengubah kita. Santo Paulus menulis: “…… kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan” (Rm 5:3-4).

Seperti halnya orang-orang tertentu, kita bisa saja merasa cepat putus-asa apabila kita tidak langsung menerima sebuah jawaban dari Yang Ilahi. Kita dapat merasa seperti menyerah berharap kepada Allah dan mulai mengandalkan diri kepada kekuatan kita sendiri.  Akan tetapi Allah mendesak kita agar supaya tetap mengetuk pintu; Ia berjanji akan membukakan pintu dan mencurahkan Roh Kudus-Nya. Kita tidak pernah boleh melupakan, bahwa Dia adalah “seorang” Bapa yang hikmat-Nya mentransenden (melampaui) pemahaman manusiawi yang kita miliki.

Bilamana Allah menunda pemberian jawaban-Nya terhadap doa kita, maka hal itu seringkali disebabkan karena Dia sedang mengajar kita untuk takut kepada-Nya secara layak dan pantas. Dia adalah Allah dan kita hanyalah makhluk ciptaan-Nya. Allah selalu baik, kudus dan benar. Dia selalu pantas bagi rasa percaya kita dan Dia taat-setia apakah kehidupan kita lurus di jalan-Nya atau suka melenceng kesana-kemari. Fondasi batu-karang kita yang kokoh adalah perwahyuan Allah sendiri tentang diri-Nya dalam Yesus Kristus, bukan turun-naiknya kehidupan kita sehari-hari. Apabila kita mendasarkan kehidupan kita atas kenyataan siapa Allah itu  dan kasih-Nya yang tak pernah gagal, maka kita dapat melihat bahwa doa-doa kita dijawab oleh-Nya. Sama seperti orang yang dengan tekunnya meminta bantuan sahabat-tetangganya dan akhirnya sang sahabat-tetangganya itu memberikan apa saja yang dibutuhkan olehnya, maka kita pun akan menerima berkat-berkat yang Allah inginkan untuk dicurahkan atas diri kita.

Melalui kesetiaan dan ketekunan, kita dapat memperkenankan Allah untuk membentuk diri kita menjadi bejana-bejana bagi kemuliaan-Nya. Selagi kita menanti-nanti-Nya, kita pun belajar untuk menaruh kepercayaan kepada diri-Nya, dan dalam menaruh rasa percaya itu pada-Nya, kita pun bertumbuh semakin kuat dan lebih mampu untuk menolong orang-orang lain. Itulah saatnya di mana Dia dapat memakai kita sebagai instrumen-instrumen untuk mewujudkan kasih dan kuat-kuasa-Nya ke tengah-tengah dunia.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kssih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau penuh kasih dan baik hati. Aku percaya bahwa sementara aku bertekun dalam doa dan ketaatan, maka Engkau akan mencurahkan Roh Kudus-Mu ke atas diriku, untuk membuat diriku seorang “ciptaan baru” seturut karakter Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Jakarta, 10 Oktober 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS