MENJADI ANAK-ANAK SURGAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Selasa, 19 Juni 2018) 

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48) 

Bacaan Pertama: 1Raj 21:17-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,11,16 

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.(Mat 5:44-45)

Ketika Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita, paling sedikit dari sudut pemikiran intelektual kita terpikirlah bahwa Dia melakukan analisis  atas masalah manusia ini dengan psikologi yang sangat mendalam. Yesus sendiri tentunya akan “pusing” sendiri seandainya Dia tidak memaafkan dan mengampuni orang-orang Farisi, para ahli Taurat dll. yang terus-menerus mengganggu dirinya. Kaum Farisi dkk. ini adalah orang-orang yang penuh dengan kebencian dan iri-hati terhadap diri-Nya, dan sangat sulit mengubah pemikiran, sikap dan perilaku mereka terhadap Yesus dan kegiatan pewartaan-Nya.

Yesus tentunya tidak luput mempunyai dugaan bahwa kaum Farisi dkk. merencanakan sebuah komplotan untuk membunuhnya agar tidak lagi menjadi “biang kerok” di tanah Israel. Upaya-upaya mereka untuk memojokkan serta menjebak Yesus beberapa kali muncul dalam beberapa narasi Injil. Pada waktu orang-orang anti-Yesus itu pada akhirnya berhasil menyalibkan-Nya di bukit Kalvari, dari atas kayu salib itu Yesus menunjukkan bagaimana seharusnya kita mengasihi dan mengampuni. Dari atas kayu salib itu Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

Hati Yesus hanya berisikan cintakasih – tidak ada hal lain – walaupun ketika menanggung penderitaan yang paling buruk yang dapat menghantam seorang pribadi. Cintakasih semacam itu menyembuhkan kita dan membasuh bersih dosa-dosa kita. Penyembuhan penuh pengampunan! Inilah yang diajarkan oleh Yesus dari atas kayu salib-Nya. Cintakasih berlimpah Yesus dari atas kayu salib inilah yang sungguh menyembuhkan luka-luka dunia.

Kita mengetahui bahwa karena dosa Adam hilanglah cintakasih yang sehat, membahagiakan dan menyembuhkan itu. Ada cerita (tidak alkitabiah) begini: Konon pada suatu siang hari yang panas-terik Adam dan kedua anak laki-lakinya yang masih kecil, Kain dan Habel, sedang berjalan di padang gurun dan panasnya pasir “membakar” telapak kaki mereka. Di kejauhan kelihatanlah area yang dipenuhi pepohonan rindang. Habel bertanya kepada ayahnya: “Bapak, mengapa kita tidak boleh tinggal di sana, di oase yang indah dan sejuk itu?” Adam menjawab, “Semua ini gara-gara salah ibumu, anakku! Gara-gara dialah kita tidak boleh lagi tinggal dalam rumah nyaman  yang dahulu.” Apa pesan cerita pendek ini? Adam tidak dapat mengampuni istrinya. Dapatlah kita melihat efek buruk apa yang telah disebabkan dosa? Dosa merampas cintakasih dari diri kita, sehingga kita menyalahkan orang lain dan menolak untuk mengampuni orang lain.

Sebaliknya Allah tidak pernah menyerah karena pemberontakan manusia yang telah diciptakan-Nya menurut gambar dan rupa-Nya sendiri (lihat Kej 1:26,27). Allah mengutus Putera ilahi-Nya, Yesus, untuk memulihkan kasih yang menyembuhkan itu bagi kita. Yesus mengajarkan kita, “Kasihilah dan ampunilah.” Singkatnya, “engkau harus menjadi sempurna seperti Bapamu di surga sempurna adanya” (Mat 5:48).

Yesus datang ke dunia pertama kalinya untuk memulihkan bagi kita cintakasih asli di taman Firdaus, cintakasih Bapa surgawi “yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar”. Yesus memang adalah sang Psikolog Agung yang mempunyai visi baru berkaitan dengan pengharapan untuk dunia.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Oleh Roh Kudus-Mu bentuklah kami sehingga dapat menjadi pribadi-pribadi yang mau dan mampu mengampuni orang-orang yang memusuhi kami dan mendoakan mereka yang menganiaya kami. Terima kasih, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Jakarta, 18 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

BUKTI BAHWA KITA BENAR-BENAR ANAK BAPA SURGAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI  – Senin, 18 Juni 2018)

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu. (Mat 5:38-42) 

Bacaan Pertama: 1Raj 21:1-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 5:2-3,5-7

Dalam “Khotbah di Bukit”, Yesus mendesak kita untuk mengasihi musuh-musuh kita. Hal ini merupakan suatu “kejutan” yang lengkap selengkap-lengkapnya karena secara total bertentangan dengan dengan “Hukum Pembalasan” yang terdapat dalam Perjanjian Lama (lihat Kel 21:24; Im 24:20: Ul 19:21). Hukum kasih yang diajarkan Yesus ini seharusnya menjadi stempel kita, umat Kristiani.

Pernah ada usaha-usaha untuk menafsirkan ayat Perjanjian Lama ini seakan hanya diberlakukan pada “si Jahat” atau “hal-hal yang jahat” saja, bukannya kepada manusia yang mendzolimi kita. Namun kata-kata Yesus sangatlah jelas. Ia memberikan empat macam peristiwa sebagai contoh bagaimana orang-orang dapat menyakiti kita:

  1. Pertama-tama lewat kekerasan secara fisik. Dalam hal ini Yesus mengajar kita untuk tidak membalas, melainkan menanggungnya (Mat 5:39).
  2. Kedua, Yesus memberi contoh berkaitan tentang tindakan di bidang hukum: “Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu” (Mat 5:40). Di mata orang Yahudi, “jubah” mempunyai makna yang sangat penting, yaitu “dirinya sendiri” (lihat Kel 22:26). Lihat pula apa yang dilakukan oleh Bartimeus yang buta ketika para murid Yesus memanggilnya untuk bertemu Yesus: dia melemparkan jubahnya! (Mrk 10:50). Seseorang harus meninggalkan “dirinya sendiri” (egonya dll.) ketika memutuskan untuk menghadap Yesus. Di sini (Mat 5:40) Yesus mengajarkan kepada kita untuk tidak hanya memberikan apa yang secara ilegal telah diambil dari kita, akan tetapi bahkan juga memberikan lebih lagi, yaitu diri kita sendiri, sikap pasrah … ikhlas.
  3. Ketiga, dalam hal paksa-memaksa (misalnya dalam hal pekerja paksa): “Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil” (Mat 5:41). Ajaran Yesus ini kemudian dipakai dalam dunia bisnis: WALKING THE EXTRA MILE adalah salah satu butir panduan mendasar dalam melakukan adhi-layanan kepada para pelanggan di service industry, misalnya industri perbankan, asuransi dll.).
  4. Akhirnya, yang keempat: Yesus mengajarkan bahwa dalam situasi yang masih memungkinkan, janganlah kita menolak orang yang mohon bantuan dan mau meminjam dari kita, apakah kawan ataupun lawan (Mat 5:42).

Yesus kemudian menjelaskan mengapa “mengasihi musuh-musuh kita” begitu penting. Ia mengatakan, bahwa ini adalah bukti bahwa kita adalah “anak-anak Bapa surgawi, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5:45).

Mengasihi para teman dan sahabat kita, mereka yang bersikap dan memperlakukan kita dengan baik adalah hal yang sangat mudah. Hal tersebut tidak membuktikan apa pun perihal sikap Kristiani kita. Orang-orang yang tidak mengenal Allah juga melakukannya (Mat 5:47). Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, tidak mengatakan bahwa mengasihi orang-orang yang baik kepada kita bukannya merupakan cintakasih yang sejati. Namun Ia mau menandaskan bahwa bukti riil dari cintakasih yang sejati adalah jikalau kita mengasihi dengan setulus-tulusnya mereka yang selalu menyakiti kita, mereka yang selalu tidak menghargai kita dlsb. Di sinilah kita memberi kesaksian bahwa cintakasih kita didasarkan secara kokoh pada kehendak Allah sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau memberikan kepada kami contoh terbaik bagaimana kami harus mengasihi musuh-musuh kami: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Terima kasih Tuhan. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.  

Cilandak, 17 Juni 2018 [HARI MINGGU BIASA XI – TAHUN B]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH JUGA DAPAT MELAKUKANNYA MELALUI DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Minggu Biasa XI [TAHUN B], 17 Juni 2018) 

Lalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai  sudah tiba.”

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan,  benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mrk 4:26-34) 

Bacaan Pertama: Yeh 17:22-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 92:2-3,13-16; Bacaan Kedua: 2Kor 5:6-10 

Pada suatu hari di bulan Desember yang dingin tahun 1955, seorang perempuan pekerja binatu yang bernama Rosa Parks naik ke dalam sebuah bis umum yang penuh di Montgomery, negara bagian Alabama, Amerika Serikat. Dalam bis ini berlaku peraturan segregasi, orang-orang dengan kulit berwarna tidak boleh duduk di kursi yang dikhususkan untuk orang-orang berkulit putih. Rosa Parks mengambil tempat duduk yang diperuntukkan bagi orang-orang kulit putih. Ketika supir bis “memerintahkan” Rosa Parks untuk pindah tempat, dia mengatakan: “Tidak!”. Sebagai akibat tindakannya itu, Rosa ditahan, tangan-tangannya diborgol dan ia pun dijebloskan ke dalam penjara.

Insiden ini memicu Gerakan Hak-Hak Sipil (Civil Rights Movement). Di bawah kepemimpinan Ralph Abernathy dan Martin Luther King, Jr., diorganisasikanlah suatu pemboikotan bis dan demonstrasi-demonstrasi tanpa kekerasan, yang kita tahu kemudian membuahkan hasil, yaitu dihapuskannya hukum berkaitan  dengan  segregasi (boleh dibaca: diskriminasi) rasial dalam bidang transportasi, perumahan, sekolah, rumah makan dan bidang-bidang lainnya. Pada saat Rosa Parks secara lugas dan lugu menjawab “tidak” kepada Pak Supir bis, sebenarnya dia memulai sesuatu yang jauh lebih signifikan daripada apa yang mungkin dapat dibayangkan orang pada tahun 1955. Pada Freedom Festival di tahun 1965, Rosa Parks diperkenalkan sebagai First Lady of the Civil Rights Movement. 

Cerita mengenai Rosa Parks ini dan keadaan yang menyedihkan dari orang-orang berkulit hitam di Amerika Serikat (terutama di negara-negara bagian di sebelah selatan yang justru terkenal dengan julukan the Bible belt) sangat serupa dengan situasi umat Allah dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini. Baik nabi Yehezkiel maupun penulis Injil Markus menulis untuk sebuah komunitas yang sedang berada di bawah pengejaran dan penganiayaan, sebuah umat yang kalah dalam jumlah dan ditindas oleh orang-orang di sekeliling mereka yang tidak percaya.

Baik Yehezkiel maupun Markus menulis untuk meyakinkan para anggota komunitas termaksud, menguatkan iman-kepercayaan mereka pada kuat-kuasa Allah untuk menanamkan benih dan membuatnya bertumbuh menjadi sebatang pohon yang besar, tinggi dan kuat. Hal ini tidak banyak bedanya pada zaman modern ini. Dalam isu-isu tertentu kita, umat Kristiani, juga kalah dalam jumlah ketimbang lawan-lawan kita, misalnya dalam soal aborsi, perceraian, kesopan-santunan dalam entertainment di muka publik, dlsb. Seperti orang-orang Yahudi Perjanjian Lama yang berada dalam pembuangan dan orang-orang Kristiani awal di Roma, kita juga perlu diyakinkan, perlu dikuatkan, disemangati dalam iman-kepercayaan kita akan kuat-kuasa Allah untuk mengambil upaya-upaya kita yang kecil dan membuatnya bertumbuh menjadi suatu gerakan yang kuat-perkasa.

Yang diminta Allah dari diri kita adalah bahwa kita menaruh kepercayaan kepada-Nya dan mencoba. Dia akan menyelesaikan sisanya tanpa ribut-ribut namun dengan tekun, sehingga dengan demikian sikap dan perilaku mementingkan diri sendiri akan dikalahkan oleh sikap dan perilaku untuk berbagi, kejahatan akan dikalahkan oleh kebaikan, kebencian akan dikalahkan oleh kasih. Apabila kita memiliki kesabaran dan pengharapan, maka pada akhirnya panenan dari apa yang kita tanam akan bermunculan: bangsa-bangsa akan berdamai satu sama lain, hak-hak azasi manusia direstorasikan, anak-anak dan para perempuan akan terlindungi dari tindakan kekerasan, orang-orang lapar akan memperoleh makanan secukupnya, dlsb.

Jadi, betapa kecil pun upaya-upaya kita untuk memajukan cita-cita Kristiani, Allah akan melipat-gandakannya dengan kuat-kuasa yang tersembunyi untuk mendatangkan hasil-hasil yang luar biasa. Allah melakukannya bagi Yehezkiel dan Markus dan Rosa Parks. Kita harus percaya bahwa Dia dapat melakukannya lagi melalui diri kita.

Sumber: Albert Cylwicki CSB, HIS WORDS RESOUNDS, Makati, Philippines: St. Paul Publications, 1991, hal.160-161.

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk menaruh kepercayaan kepada-Mu, dalam situasi apa pun yang kami hadapi. Amin. 

(Tulisan ini untuk pertama kalinya saya tulis pada tahun 2012) 

Jakarta, 16 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YA ATAU TIDAK

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa X – Sabtu, 16 Juni 2018 

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. (Mat 5:33-37) 

Bacaan Pertama: 1 Raj 19:19-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-8

Bagian dari “Khotbah di Bukit” ini diperkenalkan, seperti juga bagian-bagian lainnya, seperti berikut: “Kamu telah mendengar ……, tetapi Aku berkata kepadamu ……” Yesus berkata bahwa Dia tidak datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya (Mat 5:17). Dalam begitu banyak kasus, hukum telah dibuat encer (dibuat ringan) atau ditafsirkan secara kaku, jika tindakan itu menolong mereka yang memegang kekuasaan.

Dalam bacaan yang diambil dari “Khotbah di Bukit” ini Yesus mengatakan bahwa hukum lama ditafsirkan sebagai “Jangan bersumpah palsu”. Sebenarnya kita tidak diperkenankan bersumpah sama sekali, walaupun ketika bersumpah kita menggunakan segala macam pengganti/substitut dari Nama Ilahi. Bersumpah demi langit, demi bumi, demi Yerusalem dlsb. tetap merupakan suatu tanda bahwa kita (anda dan saya) menilai diri kita sendiri sebagai orang yang tidak jujur dan tidak dapat dipercaya.

Sebuah sumpah adalah suatu cerminan dari keadaan kedosaan seseorang. Sumpah menunjukkan kecenderungannya untuk berbohong, ketidakjujurannya. Dalam upaya untuk mengatasi ini dan memperkuat “kebenaran”, digunakanlah sumpah. Apabila kita mempunyai kecenderungan untuk menaruh kepercayaan, untuk percaya kepada orang-orang lain, untuk menerima apa yang dikatakan oleh mereka, maka sumpah tidak memiliki tempat sama sekali.

Jadi, sumpah adalah sebuah tanda bahwa kita menerima hal-hal yang buruk ini (kebohongan dlsb.) sebagai hal-hal yang normal-normal saja. Kita tidak memiliki ekspektasi adanya kebenaran atau rasa percaya antara orang-orang. Itulah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Dia berkata bahwa apa pun yang lebih atau kurang daripada YA atau TIDAK berasal dari Iblis.

Yesus membawakan kepada kita Dispensasi Baru. Dia telah menjanjikan kepada kita Roh-Nya dengan segala buah-buah, segala anugerah, segala karunia-Nya. Dalam Kehidupan Kristiani yang sejati haruslah ada kasih, rasa percaya, kebenaran dlsb. Dalam sebuah masyarakat atau komunitas sedemikian tidak ada tempat untuk sumpah. Memperkenalkan sumpah ke dalam hidup kita sebagai umat Kristiani hanya akan mengembalikan kejahatan-kejahatan berupa ketidakpercayaan dan kebohongan-kebohongan.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar hidup dalam Kerajaan-Mu dengan kasih dan rasa percaya satu sama lain. Jagalah agar kata-kata yang kami ucapkan senantiasa dapat dipercaya. Amin.

Jakarta, 15 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

VISI YESUS MENTRANSENDEN HURUF-HURUF HUKUM TAURAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Jumat, 15 Juni 2018) 

“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.”  (Mat 5:27-32) 

Bacaan Pertama: 1Raj 19:9,11-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:7-9,13-14

Injil Matius dirancang dengan sangat hati-hati guna menggambarkan Yesus sebagai sang Mesias yang menginaugurasikan Kerajaan Allah yang sudah lama ditunggu-tunggu. Dalam pengajaran “Khotbah di Bukit” kali ini, Matius mengedepankan undangan Yesus kepada mereka yang berkeinginan untuk masuk ke dalam Kerajaan ini. Pertama-tama Yesus menggambarkan berkat-berkat unik yang dinamakan “Sabda-sabda Bahagia”. Kemudian, seperti seorang Musa baru, Yesus memperkenalkan serangkaian prinsip-prinsip yang intrinsik tentang pemerintahan mesianis.

Dalam terang Kerajaan yang akan datang, Yesus mengajar para pengikut-Nya bagaimana menghayati hidup sehingga dengan demikian hidup Allah sendiri dapat berakar dan bertumbuh dalam kehidupan mereka. Yesus berbicara mengenai banyak tantangan yang kita harus hadapi dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya kemarahan, bersumpah, balas-dendam, dan mengasihi musuh-musuh. Rumusannya mengikuti suatu pola tertentu: “Kamu telah mendengar yang difirmankan, … Tetapi Aku berkata kepadamu …” Etika baru ini melampaui hukum-hukum Musa dan orang-orang Farisi. Sebagai sang Mesias yang dijanjikan, Yesus “menggenapi Taurat dan kitab para nabi, bukan meniadakan semua itu” (Mat 5:17).

Visi Yesus mentransenden huruf-huruf hukum Taurat: “Jangan berzina”, menjadi: “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya” (Mat 5:27-28). Jadi, Yesus memindahkan fokus kepada “hati”. Dengan menggunakan gaya para rabi Yahudi yang khas, Yesus mengatakan bahwa lebih baik mengorbankan mata atau bagian tubuh lainnya – jikalau memang perlu – supaya dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga (Mat 5:29-30). Hal ini menggarisbawahi/menekankan perlunya untuk mencabut sampai ke akar-akarnya segala dorongan terdalam kita untuk berdosa.

Catatan Matius dalam Injilnya mengenai posisi Yesus terkait dengan perceraian menghancurkan prakonsepsi-prakonsepsi natural/alamiah yang ada dalam pikiran mereka yang mendengar pengajaran-Nya. Ada tercatat bahwa para murid-Nya berkata kepada Yesus: “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin” (Mat 19:10). Kata-kata keras Yesus sehubungan dengan “perceraian” bukanlah dimaksudkan untuk menghukum orang-orang supaya tetap hidup selamanya dalam relasi yang bersifat destruktif, melainkan untuk menunjuk pada rahmat yang diberikan Allah kepada pasutri untuk hidup dengan cara yang memajukan Kerajaan Allah. Seperti juga “Sabda-Sabda Bahagia” dan perintah untuk mengasihi musuh-musuh kita, “kata-kata keras” tadi menyatakan “way of life” yang berbeda secara radikal, yang diaugurasikan oleh Yesus.

Untuk hidup dengan cara baru ini dibutuhkan karya Roh Kudus dalam batin kita. Melalui iman, kita dapat mengalami kuat-kuasa untuk mengasihi orang-orang lain seperti Kristus mengasihi kita. Oleh karena itu marilah kita memohon Tuhan untuk memberikan rahmat kepada kita semua.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Berdayakanlah kami oleh rahmat-Mu agar dapat saling mengasihi dan untuk menjadi murni dalam hati kami masing-masing. Kami mengakui bahwa kami tidak dapat sungguh mengasihi kecuali Engkau sendiri mentransformasikan kami dari dalam. Utuslah Roh-Mu sehingga dengan demikian kami dapat merangkul undangan-Mu yang indah untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Amin.

Jakarta, 14 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AMPUNILAH DAN BERDAMAILAH !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Kamis, 14 Juni 2018)

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: 1Raj 18:41-46; Mazmur Tanggapan: Mzm 65:10-13

Ada orang yang mengibaratkan persahabatan itu seperti porselen yang indah. Sungguh sesuatu yang sangat berharga, yang mudah pecah namun sulit diperbaiki. Kita semua mengetahui betapa sulitnya untuk mengampuni seseorang yang telah menyakiti kita,  menjatuhkan kita, katakanlah mendzolimi kita. Di samping luka yang kita derita  karena pengkhianatan sahabat kita, ada juga luka lain yang disebabkan oleh ketidakmampuan kita untuk mengampuni atau tidak adanya kemauan untuk berdamai dari pihak kita sendiri. Pada kenyataannya, dalam beberapa kasus, tidak mau mengampuni dapat menyebabkan luka yang lebih berat daripada tindakan awal orang lain yang membuat kita geram dan marah. Luka-luka kecil kalau dibiarkan saja dapat bertumbuh menjadi luka-luka yang lebih besar, konsekuensinya lebih sukar untuk disembuhkan.

Itulah sebabnya, mengapa Yesus memerintahkan kita untuk mengampuni. Namun pada saat yang sama baiklah kita ketahui bahwa Dia tidak memandang remeh sulitnya mengampuni orang lain yang telah mendzolimi kita. Bagaimana pun juga Yesus sendiri mengalami pengkhianatan dari seorang murid yang sangat dipercayai oleh-Nya. Sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana Hati Yesus meratapi Yudas Iskariot berkaitan dengan pengkhianatan murid yang satu ini. Meskipun Yesus tahu bahwa mengampuni itu sulit, tokh Ia mengajarkan kepada kita untuk mengampuni, untuk berdamai, untuk let go luka-luka lama.

Dalam Doa “Bapa Kami” yang diajarkan oleh Yesus sendiri, kita mendengar potongan kalimat seperti berikut: “Ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12). Doa “Bapa Kami” itu segera disusul oleh dua ayat penting: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang,  Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15). Mengakhiri perumpamaan-Nya tentang pengampunan (Mat 18:21-35), Yesus bersabda: “Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (Mat 18:35).

Kita tidak dapat berdalih dalam hal pengampunan ini karena perintah Yesus begitu jelas dan gamblang. Terasa  berat memang, suatu tuntutan yang sulit dipenuhi. Dalam hal ini ingatlah belas kasih Yesus kepada kita sepanjang hidup kita. Tuhan Yesus menyediakan “segudang” cintakasih-Nya bagi kita untuk menutupi kekurangan kita dalam hal mengasihi orang lain. Ia sungguh dapat menolong kita manakala hati kita sedang membeku-keras atau mengalami kepahitan dalam hidup ini.

Yesus tahu bahwa mengampuni itu sulit, tidak terjadi secara instan, seringkali bertahap. Bagi-Nya kurang penting apakah kita telah mengampuni setiap orang secara penuh. Yang penting di mata Yesus adalah bahwa kita memelihara hati lembut dan mohon kepada-Nya rahmat agar kita semakin lembut hari lepas hari. Dengan demikian, berdamailah dengan saudari dan saudara kita, dan ampunilah apa yang harus diampuni! Biarlah kasih Kristus memenuhi diri kita masing-masing, sehingga kita dapat memberikan cintakasih dan belas kasih kepada semua orang dalam kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus, hanya Engkau yang dapat membetulkan hati yang patah dan menyembuhkan jiwa-jiwa yang terluka. Buatlah aku utuh oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu. Berikanlah kepadaku rahmat untuk mengampuni. Amin.

Cilandak, 13 Juni 2018 [Peringatan/Pesta S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMUJI AND MEMULIAKAN ALLAH TANPA HENTI

(Bacaan Injil Misa, PERINGATAN S. ANTONIUS DARI PADUA – Rabu, 13 Juni 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Antonius dari Padua, Imam & Pujangga Gereja 

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia dkan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19) 

Bacaan Pertama: 1Raj 18:20-39; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,4-5,8,11

Kita, orang-orang Kristiani zaman modern, sering mengatakan bahwa mematuhi perintah-perintah Allah sampai ke detil-detilnya itu merupakan sesuatu yang membosankan. Namun seringkali rasa takut akan kebosanan ini hanyalah sekadar “jas penutup” saja. Rasa takut kita sebenarnya bukanlah takut pada kebosanan atau rutinitas. Sebenarnya kita merasa takut menghadapi tuntutan-tuntutan Allah yang tidak mengenal kompromi, kesusahan setiap hari melakukan pertempuran rohani tanpa henti, betapa melelahkannya mengembangkan hikmat dan kehendak yang serupa dengan yang dimiliki Kristus. Orang Kristiani modern yang merasa “bosan” adalah seperti seorang anak laki-laki yang berkata bahwa dia tidak menyukai sepak bola karena bermain sepak bola itu “membosankan” atau tidak membutuhkan keterampilan seperti jenis-jenis olah-raga lainnya, sebenarnya karena dia takut terluka atau dipermalukan oleh pemain bola yang lebih baik. Banyak alasan kita adalah sekadar “dalih”!

Yesus bersabda: “… ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Mat 7:2; bdk.Mrk 4:24; Luk 6:38). Terlalu banyak dari kita yang berpura-pura takut akan “kebosanan” agama dan “monotomi” dalam memuji-muji Allah – terlalu banyak dari kita sebenarnya tidak ingin melakukan apa-apa. Secara salah kita memberi cap “membosankan” pada hal-hal yang sesungguhnya dapat membebaskan kita dari kebosanan lebih besar yang kita pilih sendiri. Kita takut terhadap segala hal yang mungkin memaksa kita melakukan sesuatu yang berharga, karena karya-karya besar ini menuntut pengorbanan dari pihak kita.

Kita sebenarnya berada dalam bahaya besar. Tidak melakukan apa-apa, menikmati kehidupan kita yang sudah nyaman, maka menjaga kenyamanan kita merupakan bentuk mementingkan diri sendiri yang utama. Mementingkan diri sendiri, keserakahan, ketamakan merupakan unsur dosa yang mendasar. Bosan dengan diri kita sendiri dan rasa takut akan upaya yang dibutuhkan untuk bangkit dari lethargy (rasa lesu-malas) kita, maka kita pun akan berpaling kepada salah bentuk dosa sebagai suatu cara menyelesaikan sesuatu. Kita mengenal ungkapan dalam bahasa Inggris,  “getting the fun out of life” dan “living only once”, …… bukankah kita hidup hanya sekali? Dengan kata lain, kita begitu mementingkan diri sendiri, sehingga begitu bangun tidur, kita pun akan bertindak-tanduk secara ego-sentris.

Orang-orang yang besar di mata Allah dan manusia lainnya akan menghadapi pekerjaan yang harus dilakukan tanpa henti guna memuji dan memuliakan Allah; semua makhluk akan memimpin mereka kepada Allah; setiap talenta akan dipakai untuk memuliakan Dia; bahkan saat-saat istirahat dan kesantaian mereka dijalani dalam kehadiran-Nya yang penuh kasih. Mereka tidak mengenal “kebosanan” dalam relasi mereka dengan Allah Tritunggal Mahakudus.

DOA: Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada (Mzm 146:1). Amin.

Jakarta, 12 Juni 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS